SEPUTARHALAL.COM | Jakarta — Dengan semangat Deklarasi Istiqlal yang nilai-nilainya membawa pesan perdamaian dan keharmonisan dalam kehidupan beragama di Indonesia, Kementerian Agama (Kemenag) menggelar acara Ngaji Budaya, di Auditorium HM. Rasjidi, kantor Kemenag, jalan MH. Thamrin, Jakarta Pusat, Rabu (26/2/24).
Acara Ngaji Budaya yang bertajuk “Deklarasi Istiqlal dalam Perspektif Budaya” tersebut sekaligus sebagai acara dari rangkaian kegiatan Kemenag dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan.
Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam Kemenag, Abu Rohkmad menyampaikan, seni dan budaya menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan beragama di Indonesia. Pendekatan budaya sangat efektif untuk membentuk dan membangun masyarakat, menciptakan harmoni antara nilai-nilai agama dan tradisi lokal.
“Agama itu welcome terhadap budaya. Karena budaya itu salah satu instrumen paling efektif yang digunakan untuk mengubah masyarakat. Masyarakat akan menikmati sentuhan kebudayaan,” tutur Abu Rokhmad.
Untuk itu, dalam acara Ngaji Budaya tersebut, ia mengajak mahasiswa, santri, penyuluh agama, dan masyarakat dari berbagai latar belakang untuk menyampaikan pesan-pesan dari prinsip-prinsip Deklarasi Istiqlal, yang ditanda-tangani bersama oleh Menteri Agama saat ini, KH. Nasaruddin Umar dan dan Pemimpin Tertinggi Gereja Katolik dunia, Paus Fransiskus, pada 5 September 2024 silam, kepada masyarakat. Dan, menerapkan nilai-nilainya melalui pendekatan budaya sebagai bagian dari penguatan moderasi beragama.
“Ada tiga prinsip dari Deklarasi Istiqlal yang penting untuk disampaikan demi penguatan moderasi beragama melalui pendekatan budaya,” ucapnya.
Abu Rokhmad pun menjelaskan prinsip-prinsip Deklarasi Istiqlal tersebut, yakni: Pertama, agama dan budaya bukanlah dua hal yang bertentangan, tetapi saling menguatkan. Islam di Nusantara tumbuh melalui interaksi dengan budaya lokal tanpa kehilangan makna sebagai agama yang membawa rahmat bagi seluruh alam.
Kedua, menekankan bahwa budaya merupakan media efektif dalam menyampaikan nilai-nilai keislaman. Menurutnya Islam di Indonesia telah lama berkembang melalui seni, sastra, arsitektur, dan tradisi lokal yang mengakar di masyarakat.
Ketiga, mengulas pentingnya moderasi beragama berbasis pemahaman budaya. Abu menegaskan bahwa tantangan saat ini adalah munculnya paham keagamaan eksklusif yang mengabaikan kearifan lokal.
“Moderasi beragama itu ramah terhadap kebudayaan,” ucapnya.
Di tempat yang sama, Direktur penerangan Agama Islam, Ahmad Zayadi menyampaikan, sebagian besar tradisi, adat istiadat, dan budaya di Indonesia ini berlandaskan Islam. Mengingat, Islam sebagai agama mayoritas yang mendiami seluruh wilayah di Indonesia dan telah masuk ke Nusantara berabad-abad silam.
“Sebagian besar tradisi dan budaya kita, di seluruh daerah, itu berlandaskan Islam. Seperti di masyarakat Minang, dengan prinsip budaya adat bersendi syara’, syara’ bersendi kitabullah. Di banyak daerah lain juga sama, punya tradisi dan budaya yang berlandaskan Islam, yang tentu memiliki istilah yang berbeda,” ungkap Ahmad Zayadi.
Oleh karenanya, sambung Ahmad Zayadi, tradisi dan budaya itu tidak bisa dipisahkan dengan Islam, dengan agama, dengan kehidupan beragama di masyarakat Indonesia. dakwah melalui seni dan budaya dapat lebih mudah diterima oleh berbagai lapisan masyarakat.
“Tradisi dan budaya itu tidak bisa dipisahkan dengan agama. Tradisi dan budaya menjadi bagian penting dari ajaran-ajaran Islam,” sambungnya.
Acara Ngaji Budaya tersebut menghadirkan tiga narasumber utama, yakni: akademisi dan filolog, Oman Fathurrahman; budayawan dari Lesbumi NU, Susi Luvaty; dan Koordinator Staf Khusus Menteri Agama, Faried F Saenong.
Ketiga narasumber tersebut membahas hubungan Islam dan budaya dalam Deklarasi Istiqlal, yang menekankan pentingnya harmoni keduanya dalam membangun peradaban inklusif. Selain itu, ketiga juga sepakat untuk mendorong pelestarian budaya Islam Nusantara serta membuka ruang dialog antara ulama, budayawan, dan masyarakat.
Ngaji Budaya merupakan bagian dari rangkaian kegiatan menyambut Ramadan 1446 H dengan tema “Lestarikan Tradisi, Dekatkan Diri, Selamatkan Bumi.” Sebelumnya, Kemenag menggelar Temu Penanggung Jawab Program Siaran Agama Islam di Media pada 13 Februari 2025, serta Tarhib Ramadan bertajuk “Jalan Sehat, Pembagian Al-Qur’an, dan Bibit Pohon” pada 23 Februari 2025.