Oleh: Nadeem
(Kolumnis, Bukan Santri Pondok Pesantren)
Kehidupan modern sering kali membawa kita pada hiruk-pikuk kesibukan dunia yang tiada henti. Dunia terasa berjalan sangat cepat dan penuh distraksi. Tuntutan pekerjaan, tekanan sosial, dan ketidak-pastian masa depan sering kali membuat kita merasa kehilangan arah. Dalam situasi seperti ini, kisah Isra’ Mi’raj bukan sekadar peristiwa sejarah, tetapi juga sumber inspirasi sekaligus tantangan berpikir manusia untuk meyakininya.
Iya, kehidupan modern saat ini yang semuanya serba digital, menuntut manusia pada kepraktisan dan bersikap logis dalam menjalani hidup, namun cederung bersifat virtual. Seolah kehidupan adalah segala sesuatu yang tampak nyata, dan menolak yang fana. Sementara, Isra’ Mi’raj adalah peristiwa luar biasa yang berada di luar jangkauan kemampuan akal manusia. Peristiwa yang hanya bisa dipercayai dengan iman.
Nah, Iman itu berada pada ranah spiritual. Meskipun cara mendapatkannya tetap menggunakan akal dan logika, sebagai penguat kognitif (melibatkan fungsi otak) dan pengikat hati dalam meyakininya secara pasti, 100 persen tanpa keraguan (tashdiq al jazm).
Jadi, bagaimana mungkin mau menarik peristiwa Isra’ Mi’raj dalam ranah logika belaka, membayangkannya dalam visualisasi akal manusia yang terbatas dan kering spiritual, jika peristiwa itu berada pada ranah spiritualtas, yakni keimanan?
Seperti halnya bagi manusia modern jika disuruh melogikakan Nabi Musa membelah lautan hanya dengan tongkat, atau Nabi Isa menyembuhkan seketika orang sakit dan menghidupkan orang mati. Mampu kah?
Atau, biar lebih linier dengan ‘kemodern-annya’ dan biar tampak ‘akademis’, mungkin perlu contoh terbaru, yang tercatat di Central African Journal of Medicine, apa yang terjadi di Tanganyika, Afrika pada tahun 1962. Di mana, pernah terjadi wabah tertawa di seluruh wilayah yang menjangkiti seluruh penduduk di sana, dari mulai anak hingga orang tua. Dari satu orang yang tak bisa berhenti tertawa berhari-hari, kemudian menular ke penduduk seluruh desa, hingga ke desa-desa tetangga di sekitarnya. Sampai seluruh penduduk wilayah tersebut tertawa tanpa bisa berhenti, berhari-hari hingga pingsan. Dan, setelah 18 bulan (satu setengah tahun) wabah itu baru berhenti.
Atau, wabah tak masuk akal yang pernah terjadi Eropa. Yakni, di sebuah kota di Perancis pada tahun 1518 yang mengalami wabah menari sampai mati. Di mana, seorang perempuan yang tanpa sebab tiba-tiba dia tak bisa berhenti menari, terus menerus hingga enam hari tak berhenti menari. Yang kemudian menular ke penduduk lainnya di Strasbourg, Perancis. Hingga akhirnya kota Strasbourg mengalami wabah menari sampai mati. Sebanyak 400 orang menjadi korban wabah tersebut, mati karena kelelahan. Akibat tak bisa berhenti menari selama berhari-hari, tanpa bisa istirahat, tidur, ataupun duduk makan.
Mampu kah manusia modern melogikakan kedua peristiwa yang tercatat dalam sejarah manusia modern tersebut?
Jika manusia hanya mengandalkan logika namun kering spiritualitias, tentu akan sulit menerima semua hal itu.
Untuk itu lah, manusia perlu menanamkan dan mengembangkan sisi spiritualitasnya, agar bisa memaknai hidup dan tujuan hidup, bisa menyadari bahwa dirinya hanyalah makhluk yang lemah dengan akal serta kemampuan terbatas. Termasuk agar bisa memaknai peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad Saw. dengan benar, menerimanya secara logis (kognitif) dan meyakininya secara Spiritual.
Dengan bersatunya logika dan spiritual, kemudian dijalankan secara beriringan, maka manusia akan dapat memahami bahwa ada kekuatan yang jauh lebih besar dari dirinya, dari apapun yang ada dunia dan alam semesta ini, yang mampu mengatur segalanya, yang tak bisa dijangkau dengan akal. Yakni, kekuatan memberikan kehidupan, kekuatan berada dibalik terciptanya alam semeta, Kekuatan yang memiliki mukjizat. Yaitu, Kekuatan sang pencipta (Al Khaliq), Alloh Subhanahu wa Ta’ala. Kekuatan yang termasuk mengatur terjadinya peristiwa Isra’ dan Mi’raj Nabi Besar Muhammad Saw. Peristiwa yang tak lain merupakan mukjizat dari-Nya.
Mukjizat yang Ia tegaskan dalam firman-Nya di Surat Al Isra’ ayat pertama, yang artinya: “Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Al Isra’, 17:1)
Secara makna, Isra adalah perjalanan malam, sedangkan Mi’raj adalah naik ke atas dengan tangga. Pengertian secara keseluruhan Isra Mi’raj adalah diperjalankannya Nabi Muhammad Saw. oleh Allah di malam hari dari Masjidil Haram (Mekkah) ke Masjidil Aqsa (Yerusalem, Palestina) sebagai Isra’, dinaikkannya Nabi Muhammad Saw. dari Masjidil Aqsa menuju Sidratul Muntaha (suatu tempat di mana tidak ada satu pun yang mampu mendatanginya dan tempat yang tidak mungkin ditangkap oleh indera manusia), dengan menembus lapisan langit ke-7, sebagai Mi’raj.
Bagaimana mungkin perjalanan dari Masjidil Haram yang berada di Mekkah ke Masjidil Aqsho di Yerusalem, Palestina yang berjarak 1.462 km, dilanjutkan perjalanan vertikal menembus langit ke-7 terjadi hanya satu malam saja jika tanpa kekuatan dari yang Maha Besar, yang Maha Kuat, Maha Perkasa, yakni Alloh SWT, yang membawa Nabi Muhammad Saw. dalam perjalanan itu.
Buya Hamka dalam tafsir Al-Azhar pernah mengatakan, “Isra Mi’raj bukan hanya perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan spiritual yang mengajarkan manusia untuk terus berkembang dalam ilmu dan teknologi”. Yang artinya, ilmu dan teknologi manusia belum menjangkau atau mencapai dalam menganalisa dan melogikakan peristiwa Is’ra MI’raj. Justru Isra’ Mi’raj lah yang mengajarkan kepada manusia untuk terus mengembangkan teknologi, ilmu dan kemampuan akalnya. Ini lah, tantangan sesungguhnya Alloh Ta’ala kepada manusia untuk menjalankan logikanya dengan dilandasi, didasarkan, dan disandarkan oleh spiritulitas keimanannya. Dan, spiritualitas yang ditunjang dengan logika yang dimilikinya.
Dengan begitu, manusia secara komprehensif dan paripurna bisa memahami diri dan hidupnya, tujuan hidupnya, serta meyakini bahwa ada Kekuatan yang Maha Besar, Maha Kuat, Maha Perkasa, dan Maha Segalanya, di luar manusia dan alam semesta. Juga mengakui bahwa apa pun yang tidak mungkin (mustahil) terjadi di mata manusia, sangat mungkin terjadi jika Alloh SWT berkehendak.
Lantas, masih kah meragukan (peristiwa) Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad Saw. dengan hanya bermodal logika yang lemah dan spiritualitas yang kering, wahai manusia –yang katanya- modern?