Jelajahi Wisata Halal di China, Ada Masjid Kuno, Kota Bersejarah, dan Kuliner Lezat

dok.travel.kompas.com
Salwa Salsabila By Salwa Salsabila
14 Min Read

Seputarhalal.com –

Tren wisata halal terus berkembang seiring meningkatnya kebutuhan wisatawan Muslim terhadap destinasi yang nyaman, aman, dan sesuai dengan kebutuhan mereka. Tak hanya menawarkan panorama alam dan bangunan bersejarah, destinasi ramah Muslim juga menyediakan pilihan makanan halal serta fasilitas yang mendukung aktivitas ibadah selama perjalanan.

Menurut Mastercard-CrescentRating Global Muslim Travel Index 2026, jumlah wisatawan Muslim internasional pada 2025 meningkat 11,3 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Angka tersebut diproyeksikan terus bertambah hingga 2030, menandakan besarnya potensi pasar wisata halal di berbagai negara.

Bagi wisatawan Indonesia, negara-negara Asia masih menjadi pilihan favorit untuk berlibur. China menjadi salah satu destinasi yang menarik perhatian karena memiliki sejarah panjang perkembangan Islam, komunitas Muslim yang beragam, serta kuliner halal yang tersebar di sejumlah wilayah.

Mulai dari provinsi dengan populasi Muslim yang besar, masjid berarsitektur khas, hingga restoran halal yang menggugah selera, berikut 12 rekomendasi destinasi wisata halal di China yang bisa masuk dalam daftar perjalanan.

1. Provinsi Gansu, Menikmati Wisata di Kawasan Gurun yang Ramah Muslim

Provinsi Gansu menjadi salah satu wilayah di China yang memiliki populasi Muslim cukup besar. Kawasan ini mulai menarik perhatian wisatawan Muslim dari berbagai negara karena menawarkan perpaduan lanskap gurun, kebudayaan lokal, dan pilihan kuliner halal.

Ketua Umum Asosiasi Travel Agent Indonesia (ASTINDO), Pauline Suharno, menyebut Gansu sebagai salah satu wilayah yang dapat memberikan kenyamanan bagi wisatawan Muslim. Ketersediaan makanan halal dan fasilitas yang ramah terhadap kebutuhan Muslim menjadi nilai tambah bagi daerah tersebut.

“Daerahnya gurun pasir, terus udah gitu makanannya juga relatif halal semua dan mereka mungkin lebih nyaman ya karena dari toilet segala macam juga sudah muslim friendly,” kata Pauline, dilansir Kompas Travel (18/10/2026).

Bagi wisatawan yang ingin merasakan pengalaman berbeda, Gansu menawarkan pilihan perjalanan yang memadukan petualangan alam dan eksplorasi kebudayaan. Destinasi ini dapat menjadi alternatif bagi mereka yang ingin melihat sisi lain China di luar kota-kota metropolitan.

2. Masjid Dongguan di Xining, Perpaduan Arsitektur China dan Islam

Bergeser ke Xining, ibu kota Provinsi Qinghai, wisatawan Muslim dapat mengunjungi Masjid Dongguan. Masjid ini dikenal sebagai salah satu masjid terbesar dan populer di China.

Dibangun pada 1380, Masjid Dongguan menampilkan perpaduan unsur arsitektur China dan Islam. Karakter bangunannya menjadikannya bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga destinasi yang menarik bagi wisatawan yang ingin mengenal sejarah dan perkembangan komunitas Muslim setempat.

Selain mengunjungi masjid, wisatawan dapat melanjutkan perjalanan untuk menikmati keindahan alam Qinghai. Danau Qinghai, Sun Moon Mountain, hingga kawasan pegunungan Laoye yang cocok untuk aktivitas pendakian bisa menjadi pilihan untuk melengkapi perjalanan.

Kombinasi wisata religi dan alam membuat Xining menawarkan pengalaman liburan yang beragam dalam satu wilayah.

3. Daerah Administratif Khusus Makau, Semakin Ramah bagi Wisatawan Muslim

Makau tidak hanya dikenal sebagai destinasi dengan bangunan ikonik dan pusat hiburan, tetapi juga mulai memperkuat posisinya sebagai kawasan yang ramah bagi wisatawan Muslim.

Dikutip dari Antara (17/10/2026), upaya tersebut dilakukan melalui promosi restoran ramah Muslim serta pembinaan mitra industri pariwisata agar semakin memahami kebutuhan wisatawan Muslim.

Peningkatan kapasitas sumber daya manusia turut menjadi perhatian. Para staf di sektor pariwisata mendapatkan pembekalan mengenai budaya Islam dan kebiasaan wisatawan Muslim selama bepergian.

Langkah ini menunjukkan bahwa kenyamanan wisata halal tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan makanan, tetapi juga mencakup pelayanan dan pemahaman terhadap budaya pengunjung. Dengan dukungan tersebut, Makau berupaya memberikan pengalaman perjalanan yang lebih inklusif bagi wisatawan Muslim.

4. MinM Plaza, Pusat Oleh-Oleh dengan Area Produk Halal

Bagi wisatawan yang ingin berburu oleh-oleh, MinM Plaza di Makau menyediakan sudut khusus untuk sejumlah produk makanan halal. Produk-produk tersebut ditempatkan secara terpisah dan dilengkapi label “halal” yang mudah dikenali.

Penataan ini memudahkan wisatawan Muslim saat memilih makanan tanpa harus memeriksa seluruh deretan produk satu per satu. Kehadiran area khusus tersebut juga membantu pengunjung mengenali produk yang ditujukan bagi konsumen Muslim.

Meski begitu, wisatawan tetap perlu memperhatikan penandaan yang tersedia. Status halal hanya berlaku untuk produk-produk tertentu yang ditempatkan di area khusus tersebut, bukan untuk seluruh barang yang dijual di toko.

Dengan demikian, MinM Plaza bisa menjadi salah satu pilihan persinggahan untuk mencari buah tangan sekaligus memenuhi kebutuhan makanan selama berwisata di Makau.

5. Lou Lan Restaurant, Menjelajahi Kuliner Muslim Khas China Barat Laut

Bagi pencinta kuliner, Lou Lan Restaurant menawarkan pengalaman mencicipi masakan halal yang terinspirasi dari kekayaan kuliner wilayah barat laut China. Restoran ini didirikan dan dikelola oleh pasangan suami istri Muslim asal China.

Salah satu daya tariknya adalah sajian bergaya Uighur yang kaya rempah dan dipengaruhi tradisi Islam. Hidangan yang ditawarkan memadukan karakter kuliner China daratan dengan sentuhan cita rasa Timur Tengah.

Perpaduan tersebut menghasilkan sajian dengan rasa dan aroma khas yang berbeda dari kuliner China yang lebih umum dikenal wisatawan. Restoran ini dapat menjadi pilihan bagi pengunjung Muslim yang ingin menikmati hidangan halal sekaligus mengenal tradisi kuliner komunitas Muslim di China.

6. EL&N London di Makau, Pilihan Kuliner Halal dengan Interior Berwarna

Wisata halal juga bisa berjalan beriringan dengan pengalaman bersantap yang menarik secara visual. Salah satu pilihannya adalah EL&N London di Makau, restoran yang memadukan sajian halal dengan desain interior penuh warna.

Konsep tempat yang kasual membuat restoran ini dapat menjadi alternatif bagi wisatawan yang ingin beristirahat sambil menikmati makanan di tengah agenda perjalanan.

Seluruh menu yang disajikan disebut mengusung konsep halal dan telah terverifikasi melalui sertifikasi dari The Incorporated Trustees of the Islamic Community Fund of Hong Kong.

Kehadiran restoran ini memperlihatkan bahwa pilihan kuliner halal di destinasi wisata tidak harus terbatas pada rumah makan dengan konsep tradisional. Wisatawan juga dapat menemukan tempat bersantap dengan suasana modern yang tetap memperhatikan kebutuhan Muslim.

7. Masjid Niujie di Beijing, Menyusuri Jejak Islam di Ibu Kota China

Di Beijing, Masjid Niujie menjadi salah satu destinasi penting bagi wisatawan yang ingin mengenal sejarah Islam di China. Masjid ini dikenal sebagai salah satu masjid tertua dan terbesar di ibu kota tersebut, sekaligus berada di kawasan yang menjadi salah satu pusat komunitas Muslim Beijing.

Dikutip dari laman Traveloka, Masjid Niujie mencakup area seluas 10.000 meter persegi. Bangunannya memperlihatkan perpaduan karakter arsitektur Arab klasik dengan unsur budaya dan gaya tradisional China.

Dari bagian luar, pengunjung dapat melihat ciri arsitektur tradisional China. Namun, ketika memasuki bagian dalam, terdapat unsur kaligrafi Islam dan detail desain yang mempertemukan dua tradisi kebudayaan tersebut.

Perpaduan arsitektur itu menjadikan Masjid Niujie menarik untuk dikunjungi, baik sebagai tempat ibadah maupun sebagai destinasi wisata sejarah. Wisatawan dapat mengenal bagaimana identitas Islam berkembang dan berinteraksi dengan kebudayaan lokal di Beijing.

8. Muslim Quarter di Xi’an, Berburu Kuliner Halal di Jalur Sejarah

Muslim Quarter atau Jalan Muslim di Xi’an menjadi destinasi yang menarik bagi wisatawan yang ingin menjelajahi kuliner halal. Kawasan ini dipenuhi toko makanan dan minuman yang menawarkan beragam sajian khas komunitas Muslim setempat.

Keberadaan komunitas Muslim di Xi’an memiliki kaitan erat dengan sejarah perdagangan di kota tersebut. Xi’an merupakan salah satu wilayah yang dilalui Jalur Sutra, jalur perdagangan yang menghubungkan China dengan berbagai kawasan di Asia dan wilayah lainnya.

Para pedagang dan utusan dari Persia serta Arab datang untuk berdagang, kemudian sebagian menetap dan membangun kehidupan bersama masyarakat lokal. Keturunan komunitas Muslim yang berkembang di wilayah ini dikenal sebagai etnis Hui.

Jejak sejarah tersebut masih dapat dirasakan melalui kehidupan masyarakat dan tradisi kuliner di Muslim Quarter. Bagi wisatawan, berjalan menyusuri kawasan ini menjadi kesempatan untuk menikmati makanan halal sekaligus melihat bagaimana perjalanan perdagangan masa lalu membentuk keberagaman budaya China.

9. Kota Tua Kashgar di Xinjiang, Mengenal Budaya Muslim Uighur

Kota Tua Kashgar berada di wilayah selatan Daerah Otonomi Xinjiang dan dikenal sebagai salah satu kawasan yang menjadi rumah bagi etnis Muslim Uighur. Kota ini menawarkan pengalaman wisata yang erat dengan kehidupan masyarakat, tradisi, dan kuliner lokal.

Kashgar juga dikenal sebagai destinasi kuliner halal yang populer. Beragam hidangan berbahan daging kambing menjadi bagian penting dari kuliner setempat, sejalan dengan kebiasaan makan masyarakat di wilayah tersebut. Selain itu, wisatawan dapat menemukan berbagai jenis kurma.

Kekayaan kuliner menjadi salah satu cara untuk mengenal karakter suatu daerah. Di Kashgar, makanan tidak hanya menjadi bagian dari pengalaman berwisata, tetapi juga mencerminkan tradisi yang hidup di tengah masyarakat Muslim Uighur.

Bagi wisatawan yang tertarik pada perjalanan berbasis budaya, kota tua ini dapat menjadi pilihan untuk melihat lebih dekat kehidupan komunitas Muslim di kawasan Xinjiang.

10. Masjid Xi’an, Menelusuri Sejarah Islam di China

Masjid Xi’an menjadi salah satu destinasi wisata religi yang menarik untuk dikunjungi. Masjid ini dikenal sebagai salah satu masjid terbesar dan tertua di China, sekaligus menjadi bagian penting dari sejarah perkembangan Islam di wilayah tersebut.

Keberadaan masjid ini berkaitan dengan penyebaran Islam ke China bagian barat laut. Islam diperkenalkan melalui perjalanan para pedagang dan pelancong Arab dari Persia dan Afghanistan pada pertengahan abad ke-7.

Salah satu hal yang membuat Masjid Xi’an menarik adalah bentuk arsitekturnya yang menyerupai kompleks bangunan tradisional China. Berbeda dari gambaran masjid berkubah besar yang sering dijumpai di sejumlah negara lain, bangunan ini memperlihatkan karakter lokal yang kuat.

Keunikan tersebut menunjukkan bagaimana unsur arsitektur Islam dapat berpadu dengan tradisi bangunan China. Masjid Xi’an pun menjadi pilihan tepat bagi wisatawan yang ingin mempelajari sejarah Islam sekaligus menyaksikan kekayaan arsitektur setempat.

11. Aladdin’s Xinjiang Restaurant di Shanghai, Sajian Halal Khas Xinjiang

Shanghai dikenal sebagai salah satu kota metropolitan terbesar di China. Di tengah hiruk pikuk kota, wisatawan Muslim tetap memiliki pilihan untuk menikmati kuliner halal, salah satunya melalui Aladdin’s Xinjiang Restaurant.

Dikutip dari Panduan Wisata Muslim 2026 Trip.com, restoran ini menyajikan berbagai masakan khas Xinjiang, seperti sate domba, big plate chicken, mi tarik, dan yoghurt buatan sendiri.

Pilihan menunya memperkenalkan cita rasa khas Xinjiang kepada pengunjung yang ingin mencoba hidangan berbeda selama berada di Shanghai. Tempatnya yang cukup luas dan nyaman juga cocok untuk makan bersama keluarga atau teman.

Bagi wisatawan yang ingin menjelajahi Shanghai tanpa melewatkan kesempatan mencicipi masakan halal, restoran ini dapat menjadi salah satu pilihan untuk dimasukkan ke dalam agenda perjalanan.

12. Hongbinlou di Beijing, Restoran Halal Legendaris Sejak 1853

Selain Masjid Niujie, Beijing juga menawarkan pengalaman kuliner halal melalui Hongbinlou. Restoran legendaris ini dikenal menyajikan masakan halal khas Hui dan memiliki sejarah panjang sejak didirikan pada tahun 1853.

Usianya yang panjang menjadikan Hongbinlou bukan sekadar tempat makan, tetapi juga bagian dari perjalanan kuliner di Beijing. Restoran ini menyajikan hidangan klasik Beijing dalam versi yang lebih elegan dan mewah.

Hingga kini, Hongbinlou masih memiliki pelanggan setia dari kalangan masyarakat lokal maupun wisatawan. Kehadirannya memperlihatkan bahwa kuliner halal telah menjadi bagian dari sejarah dan perkembangan budaya makan di China.

Bagi pengunjung Muslim, restoran ini dapat menjadi pilihan untuk menikmati masakan tradisional sekaligus merasakan suasana kuliner yang sarat nilai sejarah.

Wisata Halal di China, Perpaduan Sejarah, Budaya, dan Kuliner

Beragam destinasi di China menunjukkan bahwa wisata halal tidak hanya berkaitan dengan pencarian makanan yang sesuai bagi wisatawan Muslim. Perjalanan juga dapat menjadi kesempatan untuk mengenal sejarah Islam, mengunjungi masjid berarsitektur unik, menyusuri kawasan perdagangan lama, hingga mempelajari tradisi komunitas Muslim setempat.

Dari lanskap gurun di Gansu dan masjid bersejarah di Xi’an hingga restoran halal di Makau, Shanghai, dan Beijing, setiap destinasi menawarkan pengalaman yang berbeda.

Meski begitu, wisatawan tetap disarankan memeriksa informasi terbaru mengenai status halal makanan, fasilitas ibadah, dan layanan ramah Muslim sebelum berkunjung. Persiapan tersebut penting agar perjalanan berlangsung lebih nyaman sekaligus sesuai dengan kebutuhan masing-masing wisatawan.

>>>Pengunjung: 4 times, Total 130,084 <<<
Share This Article
Leave a review