Benarkah OMC Bikin Cuaca Tak Stabil? BMKG Jelaskan Begini

OMC memiliki risiko membentuk cold pool awan, memindahkan atau menumpuk air di wilayah tertentu sehingga membuat banjir besar, dan memberikan rasa aman yang palsu. Benarkah?

Ahmad Fuad By Ahmad Fuad
3 Min Read

SeputarHalal.com | Jakarta — Operasi modifikasi cuaca (OMC) untuk menekan curah hujan terus dilakukan di sejumlah wilayah dalam beberapa hari terakhir. Bahkan DKI Jakarta menerapkannya hingga Februari, untuk mengantisipasi banjir.

Sejumlah pihak, terutama di media sosial, pun ramai mengkritisi. Beranggapan bahwa modifikasi cuaca ini justru akan membuat cuaca menjadi tidak stabil. Dengan narasi yang beredar, jika dilakukan terus menerus, OMC memiliki risiko besar dan akan menjadi ‘bom waktu’ bencana cuaca lebih besar lagi disebabkan cuaca.

Dalam narasi itu, disebut OMC memiliki risiko bencana lain seperti membentuk cold pool (kolam dingin), memindahkan atau menumpuk air di wilayah tertentu sehingga membuat banjir besar, dan memberikan rasa aman yang palsu.

Lantas, Benarkah Anggapan Tersebut?

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan bahwa operasi modifikasi cuaca yang dilakukan merupakan upaya mitigasi bencana yang terukur dan berbasis sains.

Langkah ini diambil sebagai respons paralel terhadap penurunan daya dukung lingkungan dan meningkatnya ancaman perubahan iklim.

Dalam konteks cold pool, BMKG menegaskan bahwa ini merupakan fenomena meteorologi yang sepenuhnya alami.

Selain isu mengenai cold pool, di media sosial juga ramai narasi bahwa modifikasi cuaca hanya memindahkan hujan ke wilayah lain yang berpotensi membuat banjir. Benarkah demikian?

BMKG menjelaskan dua metode utama yang digunakan untuk melindungi wilayah strategis.

Pertama, Jumping Process Method, di mana tim OMC mendeteksi suplai awan dari laut (Laut Jawa/Samudra Hindia) menggunakan radar dan menyemainya sebelum mencapai daratan agar hujan jatuh di perairan.

Kedua, Competition Method ialah awan yang tumbuh langsung di atas daratan (in-situ), penyemaian dilakukan sejak dini untuk mengganggu pertumbuhan awan (tidak menghilangkan) agar tidak menjadi awan Cumulonimbus yang masif.

“Hal ini dilakukan untuk meluruhkan intensitas hujan, bukan memindahkannya ke pemukiman lain,” ujar BMKG.

Meskipun begitu, menurut BMKG, pada saat bersamaan secara paralel juga diperlukan upaya mengurangi curah hujan seperti OMC agar bisa diterima oleh kondisi lingkungan saat ini.

Ke depannya, BMKG menyebut, perlunya penataan lingkungan harus terus dilakukan. Selain memberikan keseimbangan, juga meminimalisir potensi bencana terjadi jika terjadi lagi cuaca ekstrem dengan intensitas dan curah hujan yang tinggi seperti saat ini. Serta, penguatan kapasitas modifikasi cuaca juga harus ditingkatkan. Karena tantangan perubahan iklim bukanlah isapan jempol karena potensi terjadinya hujan ekstrem juga akan terus meningkat.

“Pun, tidak ada kepentingan logis bagi pemerintah untuk menciptakan cuaca buruk yang merugikan ekonomi atau membahayakan warga. OMC adalah alat bantu untuk mengelola risiko cuaca di tengah keterbatasan daya tampung lingkungan,” tutupnya.

>>>Pengunjung: 13 times, Total 120,969 <<<
Share This Article
Leave a review