Ditemukan Banyak Sayur Bukan Asli Indonesia di Lokasi Bencana Longsor Cisarua, Menteri Lingkungan Hidup: Kalau Bicara Lingkungan Harus Saintis Tidak Bisa Mengira-ngira

Sebagian besar sayuran yang ditanam di kawasan bencana longsor tersebut berasal dari wilayah subtropis, terutama Amerika Selatan seperti Chile dan Peru, yang kemudian dibudidayakan di dataran tinggi Indonesia, termasuk di lereng-lereng yang sebelumnya merupakan kawasan hutan

Ahmad Fuad By Ahmad Fuad
4 Min Read

SeputarHalal.com | Bandung Barat — Lereng perbukitan di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat yang menjadi lokasi bencana longsor beberapa waktu lalu, tampak dipenuhi hamparan perkebunan sayuran. Diduga, bencana ini terjadi akibat alih fungsi lahan dari sebelumnya hutan menjadi hamparan kebun sayur dan lahan pertanian.

Kondisi itu langsung menjadi sorotan Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq, yang menilai kawasan tersebut telah mengalami alih fungsi lahan dari kawasan hutan menjadi lahan pertanian intensif.

Hanif menuturkan, jenis tanaman yang mendominasi kawasan itu bukanlah tanaman asli Indoneisa yang sesuai dengan karakter alam setempat. Hal ini ia sampaikan aat meninjau lokasi longsor, Minggu (25/1/2026),

Perubahan tersebut dinilai berkontribusi terhadap kerentanan lingkungan di wilayah lereng pegunungan Burangrang.

“Kita makan hal yang sepertinya bukan habit kita, seperti kentang, kol, kobis, paprika. Itu semua daerah subtropis, yang kebiasaan hidupnya di ketinggian 800 sampai 2.000 meter di atas permukaan laut,” kata Hanif saat meninjau lokasi bencana.

Menurut Hanif, fenomena itu tidak lepas dari urbanisasi dan perubahan pola konsumsi masyarakat. Kebutuhan pangan yang meningkat mendorong perluasan lahan pertanian hingga ke kawasan gunung, meskipun tidak selaras dengan daya dukung lingkungan.

Ia menjelaskan, sebagian besar sayuran yang kini ditanam di kawasan tersebut berasal dari wilayah subtropis, terutama Amerika Selatan seperti Chile dan Peru.

Tanaman-tanaman itu kemudian dibudidayakan di dataran tinggi Indonesia, termasuk di lereng-lereng yang sebelumnya merupakan kawasan hutan.

“Ini sebenarnya bukan dari Indonesia. Jenis-jenis yang kita tanam hari ini sebagian besar berasal dari subtropis, yang kemudian naik 1.000 an meter di atas permukaan laut yang seharusnya tidak bisa,” terang Hanif.

Atas kondisi itu, Kementerian Lingkungan Hidup akan segera menurunkan tim ahli untuk melakukan kajian mendalam terkait alih fungsi lahan di kawasan longsor Cisarua. Tim tersebut akan bekerja bersama Pemerintah Kabupaten Bandung Barat untuk menelaah kondisi bentang alam secara detail.

“Kalau bicara lingkungan, ini harus saintis, tidak bisa mengira-ngira. Tenaga ahli akan segera bergabung di bawah pimpinan Bupati untuk melakukan pendalaman landscape dan langkah penanganan selanjutnya,” ucap Hanif.

Hanif menambahkan, pemerintah juga membuka kemungkinan adanya pendalaman lebih lanjut terkait aspek lingkungan lainnya, termasuk perbaikan tata ruang dan pemulihan landscape kawasan terdampak.

“Ini sebenarnya sudah lama saya sampaikan ke Bapak Gubernur Jawa Barat. Hari ini kita di tingkat kabupaten, dan saya rasa memang perlu pendalaman yang lebih serius,” ujarnya.

sebelumnya, bencana tanah longsor melanda Kampung Babakan Cibudah, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, pada Sabtu din ihari, 24 Januari 2026.

Bencana ini terjadi setelah wilayah tersebut dilanda hujan dengan intensitas tinggi sejak Jum’at, 23 Januari 2026, yang kemudian memicu longsor besar disertai banjir bandang yang membawa material lumpur pada dini hari sekiranya pukul 03.00 WIB, saat warga kampung tengah terlelap.

Bencana ini mengakibatkan korban jiwa. Tercatat, 25 orang jenazah korban longsor telah ditemukan, 11 jenazah di antaranya telah berhasil diidentifikasi, sementara 65 orang lainnya belum ditemukan sejak bencana terjadi. Jadi, total korban bencana, baik yang sudah temukan jenazahnya maupun yang belum berjumlah 113 orang, dengan 23 orang di antaranya ditemukan selamat.

Per hari Ahad, 25 Januari 2026, posko pengungsian di Kantor Desa Pasirlangu mencatat 680 warga mengungsi akibat bancana tersebut. Selain mereka, kampung Babakan CIbudah yang rumahnya diterjang tanah longsor dan banjir bandang di RW 10 dan RW 11, warga RW 12, yang tempat tinggalnya berdekatan dengan wilayah bencana, juga ikut mengungsi karena khawatir terjadinya longsor maupun banjir bandang susulan.

Pemerintah daerah Jawa Barat telah menetapkan Status Tanggap Darurat sejak 23 Januari 2026 selama 14 hari.

>>>Pengunjung: 13 times, Total 121,635 <<<
Share This Article
Leave a review