SeputarHalal.com | Jakarta — Tak ingin jemaah haji terkendala soal makanan hingga menimbulkan gangguan kesehatan maupun mengurangi kekhusyukan selama menjalankan Ibadah haji nanti, Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI akan menyajikan makanan bercita rasa Indonesia kepada para jemaah haji 2026. Yakni, dengan menghadirkan bumbu atau pasta siap olah dari Indonesia langsung di dapur-dapur haji Arab Saudi dan makanan siap santap (Ready to Eat/RTE). Yang semuanya dikirim langsung dari Indonesia.
Upaya ini dilakukan demi meningkatkan pelayanan dan mengurangi segala kendala maupun resiko bagi jemaah haji dalam penyelenggaraan ibadah haji 2026.
Melalui Direktorat Jenderal Pengembangan Ekosistem Ekonomi (Ditjen PEE), Kemenhaj melakukan seleksi dengan uji coba rasa dengan menghadirkan sekitar 20 perusahaan vendor penyedia bumbu pasta maupun RTE yang siap menjadi penyedia atau penyuplai bumbu pasta maupun RTE untuk jemaah haji pada pelaksanaan haji 2026, di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, Kamis (8/1/26).
Menteri Haji dan Umrah (Menhaj) RI, KH Mochammad Irfan Yusuf sendiri yang langsung melakukan uji rasa dalam seleksi tersebut dengan mencicipi satu per satu masakan yang disajikan, di tiap meja, dari perusahaan-perusahaan vendor yang mengajukan diri. Tampak, ada sekitar 20 meja yang disusun rapi memanjang seperti bazaar, baik di selasar gedung maupun di dalam gedung. Setiap meja menyajikan berbagai makanan olahan siap santap (RTE) maupun bumbu-bumbu jadi dalam kemasan praktis.
Dengan didampingi oleh Direktur Jenderal Pengembangan Ekosistem Ekonomi (PEE), Jaenal Effendi; Direktur Jenderal Pengendalian Penyelenggaraan Haji dan Umrah, Harun Al Rasyid; dan para pejabat Kemenhaj lainnya, Menteri yang kerap disapa Gus Irfan tersebut tampak mencicipi beberapa masakan yang disajikan di meja-meja oleh perusahaan-perusahaan vendor yang ikut serta dalam acara tersebut sambil melakukan tanya jawab.
Menu nusantara yang disajikan di meja-meja peserta yang rencananya akan ikut menjadi penyedia pada katering haji tahun ini diantaranya: nasi kuning, nasi goreng, balado, nasi uduk, rendang, opor, woku, pesmol, tongseng, krengsengan, dabu-dabu, lada hitam, asam manis, saus mentega, serta snack atau kue-kue nusantara lainnya, seperti pastel, dan risol. Ada juga menu masakan Timur Tengah yang sudah familier dengan lidah orang Indonesia, seperti nasi kebuli, nasi mandhi, ataupun samosa. Selain itu, disediakan juga menu ramah lansia seperti bubur dan kacang hijau, yang juga disiapkan sesuai kebutuhan jemaah.
Gus Irfan menyebut, dihadirkannya makanan cita rasa nusantara agar para jemaah nantinya tidak lagi terkendala oleh makanan luar negeri atau dari Arab Saudi dan Timur Tengah dengan cita rasa berbeda atau bahkan tidak bisa diterima oleh lidah selama mereka menjalankan ibadah haji.
Harapannya, agar para jemaah bisa tetap makan selayaknya makanan sehari-hari yang biasa dikonsumsi di Indonesia, agar bisa menunjang stamina dan gizinya selama menjalankan ibadah haji. Mengingat Haji merupakan ibadah fisik, dengan porsi 90 persennya adalah ibadah fisik. Sehingga, jemaah haji Indonesia tetap bisa prima fisiknya, sehat dan kuat dalam menjalankan ibadah haji dengan sempurna, menjalankan semua rukun-rukunnya sampai selesai.
“Karena kami sadar, kita sadar bahwa makanan menjadi salah satu penunjang kesehatan para jemaah haji kita, di mana pelaksanaan ibadah haji memerlukan fisik yang kuat dan sehat, sehingga makanan sangat berpengaruh kepada jemaah kita,” ucap Gus Irfan.
Selain soal cita rasa, Gus Irfan juga menegaskan, makanan untuk jemaah haji harus memenuhi standar gizi. Sehingga, bisa menunjang kesehatan jemaah selama di Tanah Suci.
“Tentu ada jumlah, gramasi, tentu ada kualitas gizi juga, itu menjadi perlindungan kita. Kita upayakan semua bahan dari Indonesia, kita masih bekerja keras supaya beras bisa masuk ke sana, dan itu nggak mudah,” katanya.
Gus Irfan mengungkapkan, uji makanan melibatkan sejumlah institusi untuk memastikan standar kelayakan terpenuhi, di antaranya IBP Pangan, NHI Bandung, dan Sahid Jakarta.
Selain itu, sambung Gus Irfan, terkait makanan siap santap atau RTE, ini sangat urgent, sangat diperlukan terutama pada saat masa Armuzna (Arafah, Muzdalifah, dan Mina). Seperti diketahui bersama, saat masa Armuzna, layanan katering dihentikan. Karena lalu lintas di kota Makkah sudah sangat padat. Maka sebagai gantinya, dikirim makanan siap santap dari tanah air.

Alasan dihadirkannya Menu Nusantara Bagi Jamaah Haji di Penyelenggaraan Haji 2026
Gus Irfan mengaku, kebijakan ini lahir dari evaluasi layanan haji sebelumnya. Di mana, faktor makanan terbukti berpengaruh pada stamina dan kenyamanan jemaah selama menjalani rangkaian ibadah yang padat. Kemenhaj menilai, rasa yang familier dapat membantu jemaah beradaptasi lebih baik dengan kondisi di Tanah Suci. Apalagi, para Jemaah haji nantinya akan tinggal di sana selama sebulan lebih (30 sampai 40 hari), tentu makanan menjadi hal yang sangat penting untuk diperhatikan.
“Kita tidak ingin lagi mendengar keluhan tentang rasa yang tidak familier atau gizi yang kurang optimal. Kita menginginkan sebaliknya, makanan yang halal, thayyib, bergizi tinggi, aman, sekaligus membawa identitas dan kehangatan Nusantara,” ujar Gus Irfan.
Sejalan dengan itu, Gus Irfan menegaskan bahwa pemenuhan konsumsi jemaah haji harus berpegang pada prinsip halalan thayyiban, mengedepankan kekayaan cita rasa Nusantara yang adaptif dan inovatif, dilakukan melalui kolaborasi nasional, serta berorientasi pada kebutuhan dan kenyamanan jemaah.
Untuk memastikan kebijakan tersebut berjalan baik dan nyata, pemerintah menetapkan 75 dapur katering haji, yang terdiri dari 52 dapur di Makkah dan 23 dapur di Madinah, yang nantinya akan melayani jemaah Indonesia pada musim haji 2026. Seluruh dapur penyedia katering Jemaah haji Indonesia tersebut diwajibkan menggunakan produk asal Indonesia, mulai dari makanan siap saji, bahan segar, hingga bumbu-bumbu jadi yang dikirim langsung dari Indonesia.
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Pengendalian Penyelenggaraan Haji dan Umrah, Harun Al Rasyid menekankan, pentingnya kepastian implementasi di lapangan.
“Yang kami dorong bukan hanya komitmen, tetapi kepastian pelaksanaan. Kemenhaj memastikan dapur benar-benar menggunakan produk Indonesia, didukung skema harga dan mekanisme pembayaran yang jelas agar layanan kepada jemaah berjalan optimal,” ujar Harun.
Harun menambahkan, pembagian peran yang jelas antara dapur katering, importir, dan supplier menjadi kunci keberhasilan program konsumsi berbasis produk nasional ini.
Selain itu, Harun menyampaikan, dalam penyelanggaraan haji 2026 nanti akan ada penambahan pasokan bahan makanan dari yang sebelumnya hanya mencapai sekitar 400 ton di tahun lalu, maka tahun ini naik menjadi sekitar 600 ton, seiring peningkatan kualitas layanan konsumsi.
Untuk memenuhi target proyeksi kenaikan pengiriman bumbu masakan dari Indonesia tersebut, rencananya ada 10 perusahaan yang akan dilibatkan untuk menjadi penyuplai bumbu dan bahan makanan dari Indonesia.
Dan yang paling penting untuk diperhatikan, sambungnya, proses pengiriman bumbu makanan dari Indonesia tersebut harus memperhatikan pengemasan. Sehingga, tidak rusak ketika dibawa pengiriman melalui penerbangan selama berjam-jam dan saat pengiriman di kendaraan melalui jalur darat, dari Indonesia ke Arab Saudi.
Tak kalah pentingnya untuk diperhatikan pula, adalah proses penyimpanan bumbu-bumbu dan bahan makanan dari Indonesia tersebut selama di Arab Saudi, agar dapat disimpan dengan baik dan benar, supaya awet dan tetap segar, tidak rusak ataupun basi, serta layak konsumsi.
Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Masuk Rantai Ekonomi Haji
Dalam kerangka penguatan ekosistem ekonomi haji yang digiatkan oleh Kemenhaj dalam pelaksanaan Penyelenggaraan Haji tahun 2026, Direktur Jenderal Pengembangan Ekosistem Ekonomi (PEE), Jaenal Effend yang turut hadir mendampingi Menhaj menyebut, pemenuhan cita rasa makanan yang familier dengan jemaah haji Indonesia memiliki peran yang sangat penting.
“Kita memahami betapa pentingnya sentuhan rasa yang familier di tengah cuaca ekstrem, kelelahan, dan kerinduan akan tanah air. Hidangan dengan cita rasa rempah yang tepat, kuah yang menghangatkan, atau sambal yang khas dapat menjadi penyembuh rindu sekaligus penguat semangat,” ujar Jaenal.
Uji Cita Rasa Nusantara ini, sambung Jaenal, memiliki sejumlah tujuan yang strategis. Antara lain, menyeimbangkan kebutuhan gizi dan cita rasa khas Indonesia yang sesuai dengan kondisi operasional haji di Arab Saudi, mendorong inovasi menu dan pengemasan yang aman serta mudah didistribusikan, membuka ruang keterlibatan UMKM kuliner nasional, serta memastikan seluruh proses memenuhi standar keamanan pangan dan prinsip halalan thayyiban.
Menariknya, lanjutnya, pemerintah juga mendorong keterlibatan UMKM dan produsen pangan dalam negeri. Para importir Arab Saudi menyambut positif kebijakan ini, terutama terkait kepastian pembayaran dan dukungan kelembagaan dari pemerintah.
Sebagai tindak lanjut, data dapur, daftar supplier Indonesia tersertifikasi, serta importir yang memenuhi syarat akan segera dibagikan. Langkah ini diharapkan mempercepat proses pemesanan dan distribusi produk sebelum musim haji dimulai.