Beri Pesan Tegas ke Petugas Haji, Wamenhaj Dahnil: Tak Disiplin, Kita Pulangkan!

Petugas haji harus memiliki fisik yang kuat, mental yang mumpuni, empati yang tinggi. Butuh kedisiplinan dan latihan yang keras. Di Diklat ini para petugas haji ditempa latihan semi-militer, agar bisa mendapatkan itu

Ahmad Fuad By Ahmad Fuad
6 Min Read

SeputarHalal.com | Jakarta —  Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI menggelar pendidikan dan latihan (Diklat) Petugas Penyelenggaraan Ibadah Haji (PPIH) 2026.

Acara yang digelar di Gedung Serba Guna 2, Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur ini dibuka langsung oleh Menteri Haji dan Umrah (Menhaj) RI, Mochamad Irfan Yusuf, dengan didampingi Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI, Abdul Wachid, dan Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj) RI, Dahnil Anzar Simanjuntak, pada Ahad pagi (11/1/26).

Seusai menemani Menhaj dan anggota DPR RI dalam pembukaan DIklat PPIH, Wamenhaj Dahnil Anzar menyempatkan diri untuk bertemu dengan awak media di selasar Gedung Serba Guna 2 Asrama Haji Pondok Gede.

Di depan wartawan Dahnil Anzar kembali mengingatkan peran, posisi dan fungsi PPIH Arab Saudi dalam penyelenggaraan 2026M/1447H.

“Kepada para PPIH yang hari ini menjalani Diklat, saya mau tegaskan hari ini, luruskan niat dulu. Anda masuk ke sini artinya anda sudah siap mengikuti aturan Kementerian Haji. Kalau tidak mau ikut diklat 20 hari, silahkan ganti dengan yang siap. Ada jutaan orang di luar sana yang mengantre ingin menjadi petugas haji,” ucap Dahnil.

Diklat yang diikuti oleh 1.636 peserta dari berbagai latar belakang, dari seluruh Indonesia tersebut, menurut Dahnil, selain menjadi sarana penempaan fisik dan mental, juga menjadi sarana pelurusan niat bagi seluruh petugas haji.

“Anda di sana fokusnya adalah pelayanan jemaah. Pelayanan jemaah itu artinya mereka bukan sebagai jemaah. Saya ingatkan, jika tidak mau melayani jemaah, ya jangan menjadi petugas,” tegas Dahnil

Dahnil menyoroti pentingnya membuang ego pribadi para petugas haji, terutama bagi mereka yang memiliki latar belakang sebagai pejabat di instansi awal. Menurutnya, karakter pelayan jemaah yang tangguh tidak akan terbentuk jika seseorang masih merasa lebih tinggi dari yang lain.

“Di sini Anda bukan pejabat, buang semua atribut jabatan atau gelar. Wakil Menteri saja diklatnya di Magelang tidur di tenda. Jadi kalau Bapak Ibu tidak tidur di tenda, itu sudah bersyukur. Jangan ada lagi yang merasa sok hebat,” kata dia.

Ia juga mengingatkan kembali saat dirinya bertugas sebagai petugas haji 2025, saat masih menjadi Wakil Kepala BP Haji dan Kementerian Haji belum terbentuk, di mana ia menggendong seorang jemaah lanjut usia (lansia) yang terduduk kelelahan waktu Jamarat (tempat pelemparan jumrah) secara bergantian bersama tim, dari Jamarat menuju Maktab di Mina, yang berjarak sekitar 3-7 kilometer.

“itulah kenapa petugas haji harus memiliki fisik yang kuat, mental yang mumpuni, empati yang tinggi. Butuh kedisiplinan dan latihan yang keras untuk memperoleh semua itu. Dan, di Diklat ini kita tempa para petugas haji untuk disiplin, latihan semi-militer, agar bisa mendapatkan itu,” tutur Dahnil.

Menjawab Kritik

Dahnil juga menyampaikan tentang banyaknya kritik yang disampaikan terhadap pelaksanaan haji. Di antaranya, terkait kinerja petugas dan keberadaan petugas haji.

“Terus terang banyak kelemahan, banyak kekurangan, terutama pada proses rekrutmen,” kata Dahnil.

Terkait rekrutmen, ia mengaku, Kementerian Haji dan Umrah saat ini tidak memiliki banyak waktu untuk memperbaiki metodologinya. Saat ini terdapat dua model rekrutmen, yakni melalui seleksi dan penunjukan langsung.

“Nah, ke depan yang banyak dikritik tentu terkait metode seleksinya. Mungkin ke depan kami akan melakukan banyak perubahan, terutama terkait transparansi dan akuntabilitas,” ujarnya.

“Dengan penunjukan langsung juga kami harus itu bisa dipertanggungjawabkan. Nah, itu yang menjadi fokus kami,” sambungnya.

Pulangkan Petugas yang Tidak Disiplin dan Lalai

Menjadi sorotan terkait kinerja petugas, Dahnil secara tegas mengaku akan memulangkan petugas yang tidak disiplin baik soal waktu maupun tugas, melanggar aturan, lalai dan tidak responsif dalam menjalankan tanggung jawabnya melayani jemaah.

“Tidak ada toleransi lagi bagi petugas dalam hal kedisiplinan, pelanggaran aturan, ataupun lalai dalam menjalankan tugas. Langsung kita pulangkan,” tegas Dahnil.

Hal itu, sambung Dahnil, tak hanya berlaku saat bertugas di Arab Saudi saja. Juga, saat Diklat dijalankan. Jika ada peserta yang melanggar aturan dan disiplinan, akan ditarik.

“Terlebih lagi saat nanti bertugas di Arab Saudi saat pelaksaan haji nanti, jika ada petugas yang melanggar aturan, lalai, tidak responsif, tak disiplin dalam tugasnya, kita peringatkan, lalu kita pulangkan. Di sini pun saat Diklat berjalan, jika ada yang tidak disiplin dan melanggar aturan, kita tegur, dan kita pulangkan, untuk diganti dengan yang lainnya,” sambungnya.

Bagi Dahnil, Kedisiplinan, responsif, dan ketaatan aturan dalam melayani jemaah adalah hal yang tidak bisa ditawar lagi.

“luruskan niat hanya untuk melayani jemaah, jangan lagi ada niatan untuk nebeng haji, buang ego pribadi, disiplin dan taat aturan, itu semua tidak bisa ditawar-tawar lagi,” tegasnya.

Meski begitu, Dahnil juga mengakui, memang masih ada petugas yang belum pernah berhaji. Namun, keinginan berhaji tidak boleh menjadi motivasi utama. Ia menekankan, ketika petugas sudah berada di lapangan, mereka harus memiliki fokus utama, yakni melayani jemaah haji.

“Nanti ada fikih petugas haji, supaya mereka juga tetap mendapatkan bonus ibadah haji. Ada cara-cara secara fikih yang memang memungkinkan,” tutupnya.

>>>Pengunjung: 38 times, Total 123,978 <<<
Share This Article
Leave a review