Ini Cerita Imam Asal Amerika Saat Umat Islam Jadi Minoritas

Di Amerika, seperti halnya di Inggris, Prancis dan negara-negara dengan muslim minoritas lainnya, umat Islam tidak memiliki kekuatan untuk membela diri.

Ahmad Fuad By Ahmad Fuad
8 Min Read

SEPUTARHALAL.COM | Jakarta —Menjalankan ibadah secara aman, nyaman, semarak, dan khusyu’ adalah kenikmatan yang patut disyukuri umat muslim di Indonesia.

Karena, di belahan lain di dunia ini, banyak umat muslim yang masih kesulitan untuk menjalankan ibadah, bahkan yang wajib dan pokok sekalipun. Ini dialami umat muslim yang menjadi minoritas yang tinggal di banyak negara, di luar sana.

Tak sedikit pula umat muslim yang harus menerima tindakan represif, kekerasan, hingga mengancam nyawa bagi diri dan keluarganya. Baik oleh, komunitas agama lain, oleh kelompok ideologi tertentu, bahkan oleh aparat dan pemerintah di negara yang mereka tinggali.

Bukan hanya mereka yang tinggal di daerah konflik maupun yang dilanda peperangan, bahkan yang tinggal di negara yang aman sekalipun, saat menjadi minoritas, mereka mendapati kondisi seperti itu.

Kondisi seperti secara gamblang diceritakan oleh Abdul Malik Mujahid, seorang pemimpin komunitas muslim di Chicago, Amerika Serikat (AS). Ia datang ke Indonesia, bertemu dengan awak media di Gedung Menara Dakwah, Kantor Dewan Dakwah Islam, Jalan Kramat Raya 45, Jakarta Pusat, pekan lalu, Sabtu (1/2/2025).

Tak hanya menjadi seorang pemimpin komunitas muslim di Chicago –mendapat sebutan Imam di sana, dirinya juga sebagai Presiden dari Justice For All, sebuah lembaga internasional yang berperan aktif dalam perlindungan kaum minoritas di seluruh dunia.

Imam Malik, begitu ia disapa, menceritakan bagaimana ia bersama anggota komunitas muslim lainnya kerap mendapatkan kondisi kurang mengenakkan, karena minoritas. Ancaman kekerasan, bullying, penangkapan (penjara) hingga pembunuhan sering mereka alami. Ancaman dan perlakukan tersebut tak hanya didapatkan dari komunitas agama lain maupun kelompok ideologi tertentu, tetapi juga dari negara atau pemerintahan di negara yang mereka tinggali.

Ia mengaku, sebagai kelompok minoritas, di Amerika, seperti halnya di Inggris, Prancis dan negara-negara dengan muslim minoritas lainnya, umat Islam tidak memiliki kekuatan untuk membela diri.

“Kami, sebagai minoritas, tak memiliki kekuatan untuk membela diri,” ungkapnya.

Tetapi ia percaya, membalasnya dengan akhlak Islam yang santun dan lembut serta membuka dialog dengan masyarakat, dengan komunitas agama lain, dan dengan pemerintah juga parlemen, dapat mengatasi semua ancaman tersebut.

Dengan membuka dialog, ia bersama muslim lainnya di Amerika Serikat dapat membuka mata masyarakat di Amerika sana, dan membalikkan pandangan mereka tentang Islam yang selama ini digambarkan sebagai agama kekerasan, agama perang dan terorisme. Gambaran, yang memang sengaja diproduksi secara sistematis, terstruktur, terpusat, dan terkoordinir untuk kemudian disebar ke seluruh dunia sebagai informasi.

Imam Malik menyebut, lebih dari 300 informasi yang diproduksi setiap hari, baik berupa pemberitaan, artikel, analisa dan informasi akademis, maupun konten, yang menyampaikan pandangan yang salah dan menyudutkan Islam, oleh sebuah lembaga yang memiliki jaringan dengan pemerintah.

“Kami mengetahui, ada satu lembaga yang terafiliasi dengan pemerintah, lebih dari 300 informasi yang mereka produksi dan sebarkan ke seluruh dunia, setiap hari, untuk menyudutkan Islam,” ungkapnya.

Sebagai Presiden dari lembaga yang memperjuangkan kaum minoritas, Justice For All, ia telah banyak berkeliling ke banyak negara di berbagai benua. Ia menyebut, muslim Amerika sedikit lebih beruntung dibandingkan dengan umat muslim yang tinggal di beberapa negara Eropa, di Afrika, bahkan di Asia sekalipun sebagai benua yang penduduk muslimnya merupakan mayoritas, meski sama-sama minoritas di negara mereka tinggal. Karena bisa membuka dialog.

“Setiap bulan Justice For All melakukan pertemuan dengan pihak pemerintah maupun parlemen untuk membahas tentang isu yang terkait dengan dunia Islam yang berkembang di Amerika,” ucapnya.

“Hingga saat ini, masjid kami di Chicago telah didatangi lebih dari 500 ribu orang, baik wisatawan maupun masyarakat yang ingin tahu tentang Islam,” sambungnya.

Sementara, lanjut Imam Malik, di Afrika Tengah, ia mendapati sebuah negara di mana dulunya terdapat 800 masjid di wilayah tersebut, saat ini hanya tersisa 2 saja masjid yang masih berdiri di sana.

Bahkan, sambungnya, cerita lebih sedih lagi terjadi di Asia, benua yang mayoritasnya adalah muslim. Ia menceritakan bagaimana kondisi umat muslim di India beberapa tahun belakangan ini di bawah kekuasaan rezim perdana menteri Narendra Modi dengan partainya yang berkuasa Bharatya Janata. Banyak kalangan menyebut partai ini kelompok sayap kanan dan ultra-nasionali Hindu di India.

“Di India, seorang muslim bisa 3 kali ditangkap oleh pihak keamanan tanpa alasan yang jelas. Ada sebagian wilayah tertentu yang dilarang untuk menjalankan sholat (bagi muslim) di India. Ada perintah kuil dan sayembara untuk melakukan pembunuhan terhadap muslim di India, dengan target 100 ribu orang muslim dibunuh, dan diberikan hadiah bagi siapapun yang melakukannya,” ungkap Imam Malik.

“Bahkan, atas perintah kuil pula, ada seorang gadis muslim berumur 10 tahun yang diperkosa beramai-ramai, hingga meninggal dunia,” lanjutnya dengan wajah sedih.

Untuk itu, saat pertemuan dengan awak media di Gedung Menara Dakwah, DDII pekan lalu itu, ia mempertanyakan, apa alasan Indonesia (PBNU & Muslim World League/MWL) mengundang kelompok sayap kanan Hindu India, Rashtriya Swayamsevak Sangh (RSS) yang merupakan kekuatan elementer dari partai Bharatya Janata, saat pertemuan internasional R20 di Bali, November 2022 silam.

“Mereka telah nyata-nyata melakukan kekerasan dan pembunuhan terhadap kaum minoritas, umat muslim di India,” kata Imam Malik

Imam Malik yang delapan kali dinobatkan sebagai “500 Muslim Paling Berpengaruh di Dunia” ini menyebut, da 400 juta umat muslim yang menjadi minoritas yang tinggal di lebih dari 100 negara. Dan, berdasarkan data dari Brown University, ada 4,5 juta umat Islam yang terbunuh karena perang dan kekerasan.

“Tidak ada orang yang peduli dengan hal ini,” tuturnya.

Meski begitu, Imam Malik menyebut saat ini, ada oase segar yang selama ini dirindukan, dari pidato yang disampaikan oleh Presiden Indonesia, Prabowo Subianto, yang dengan berani dan tegas mengkritisi para pemimpin muslim di negara-negara Islam yang justru saling bermusuhan dan terpecah belah, sehingga melemahkan solidaritas serta dukungan terhadap umat muslim di seluruh dunia, serta menyebut Hak Asasi Manusia (HAM) Internasional “bukan untuk orang Muslim” saat Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Ke-11 di Kairo, Mesir, Desember 2024 silam.

“Kami sangat mengapresiasi peranan Indonesia dan kepemimpinan Presiden Prabowo, terlebih saat beliau menyampaikan di Mesir bahwa HAM bukanlah untuk umat Islam, ini menumbuhkan kekaguman kami kepada Indonesia,” ucapnya.

Ia mengaku, selain ingin menceritakan kondisi yang sebenarnya yang dialami oleh umat Islam di seluruh dunia saat menjadi minoritas, ia juga ingin bertemu Presiden Prabowo untuk menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasihnya.

“Umat muslim di negara-negara di mana mereka menjadi minoritas sangat membutuhkan bantuan, dukungan, dan support dari umat muslim mayoritas seperti Indonesia,” ucap Imam Malik.

Ia berharap, Indonesia dapat berperan lebih besar lagi untuk mendukung penegakan keadilan bagi semua manusia, termasuk hak-hak bagi komunitas muslim yang menjadi minoritas di banyak negara.

>>>Pengunjung: 19 times, Total 119,056 <<<
Share This Article
Leave a review