SeputarHalal.com | Aceh — Fajar masih belum juga menyingsing saat ia sudah mulai mengayuh sepedanya dari sebuah masjid di daerah Langkat, Sumatera Utara, yang berbatasan dengan Aceh Timur, seusai melaksanakan ibadah sholat Shubuh. Untuk melanjutkan perjalanannya kembali menuju Aceh Tamiang
“aku semalam tidur di masjid, karena kemaleman di jalan,” ucap Tjahja Gunawan kepada SeputarHalal.com melalui sambungan telepon seluler, saat dirinya diminta untuk menceritakan kisah ‘kenekatannya’ berangkat seorang diri dari Tangerang menuju Aceh Tamiang dengan membawa sepeda kesayangannya. Demi bisa membantu saudara-saudara di sana yang menjadi korban bencana banjir bandang dan tanah longsor pada akhir November 2025 kemarin, dengan menjadi relawan kemanusiaan.
Saat kami hubungi, Tjahja Gunawan masih berada di posko kemanusiaan di Aceh Tamiang. Itu kali kedua dirinya datang ke Aceh Tamiang dalam waktu sebulan ini. Setelah sebelumnya, ia berangkat seorang diri ke Aceh Tamiang dengan bersepeda. Kali ini –saat kami hubungi, ia datang bersama beberapa orang kawannya dari Jakarta dengan membawa bantuan ratusan boks Al Qur’an dan peralatan ibadah, juga bahan makanan serta snack untuk anak-anak, ke Aceh Tamiang dengan kendaraan logistik.
“aku sekarang masih di posko Aceh Tamiang, ini kedua kalinya aku ke sini. Kemarin sempet pulang bawa sepeda. Tiga hari di rumah, selain untuk istirahat, juga sekalian digunain untuk galang donasi. Alhamdulillah, Jum’at kemarin aku bisa berangkat lagi ke sini (Aceh Tamiang, red) bareng temen-temen untuk salurkan bantuan,” terangnya, saat kami hubungi pada Sabtu sore (17/1/26).
Mas Gun, begitu ia akrab dipanggil –sebagian lagi juniornya di dunia jurnalistik memanggilnya Pak Gun, memang hobi bersepeda. Setiap hari ia bersepada dengan rute tentatif mencapai puluhan kilometer. “udah nyandu, sih, badan malah pegel semua kalau nggak sepedaan,” akunya.
Usia pensiun tak menghalanginya untuk bersepeda puluhan kilometer jauhnya. Baik sebagai hobi maupun sebagai panggilan kemanusiaan dengan mendatangi wilayah-wilayah bencana.
Bahkan, pada tahun 2022, bersama seorang kawannya ia sempat berencana berangkat haji ke Tanah Suci Mekkah dengan naik sepeda. Meski gagal karena kendala teknis yang tak bisa ditawar lagi. Yakni, saat mau memasuki wilayah Malaysia, ternyata negeri tetangga tersebut masih menerapkan lockdown imbas Covid-19 yang masih melanda Malaysia.
Mengenai keberangkatannya ke Aceh Tamiang sebagai relawan kemanusiaan, Ini merupakan ke sekian kalinya Mas Gun mendatangi wilayah-wilayah bencana dengan sepedanya, menjadi relawan kemanusiaan.
Sebelumnya, mas Gun juga ikut turun membantu korban bencana saat terjadi gempa besar di Cianjur yang menelan ratusan korban jiwa. Masih dengan membawa sepeda, mengayuhnya dari rumahnya di BSD, Tangerang Selatan ke Cianjur melalui Jalur Puncak Bogor.
“sebelumnya aku juga sepedaan dari rumah di BSD ke Cianjur saat bencana gempa. Ada panggilan hati, panggilan kemanusiaan untuk berangkat ke sana, setidaknya sedikit bisa bantu-bantu saudara-saudara kita yang jadi korban bencana,” ucap Mas Gun.
Saat berangkat ke Aceh Tamiang pertama, awal Januari lalu, ia memang ia tidak mengayuh sepedanya langsung dari rumahnya di BSD ke Aceh. Melainkan, ia packing sepedanya, lalu naik pesawat bersama sepedanya yang ia bagasikan, menuju Medan, Sumatera Utara.
Sesampainya di Medan, ia ke posko Wahana Muda Indonesia (WMI), sebuah lembaga kemanusiaan nasional, yang mendirikan posko untuk giat kemanusiaan membantu korban bencana banjir bandang di Sumatera Utara yang terjadi di akhir November 2025 lalu.
Ia beristirahat dan bermalam di posko, dengan kondisi seadanya. Di posko, ia juga gunakan waktunya untuk merakit kembali sepeda yang ia bawa dari rumah, sekaligus mempersiapkan perlengkapan yang akan ia bawa. Mengemas perbekalan di bike bag dan carrier di sepedanya. Keesokan paginya, baru Mas Gun mulai jalan, mengayuh sepedanya dari Medan menuju Aceh Tamiang. Jarak yang ia tempuh sepanjang kurang lebih 130 an kilometer.
“Perjalanaan kurang lebih 30-an jam lah. Karena aku harus bermalam dulu di masjid di daerah Langkat sana, untuk lanjut jalan paginya, abis sholat shubuh, ke Aceh Tamiang. Berangkat dari Medan pagi, sekitar jam 9, sampai di Aceh Tamiang esok harinya sekitar jam 1 an siang lah, waktu dzuhur di sini (Aceh Tamiang, red),” ucap Mas Gun.

Mas Gun mengaku, sejak awal terjadi bencana di Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara akhir November 2025 lalu, dirinya memang sudah berniat untuk berangkat bersepeda menuju wilayah-wilayah bencana tersebut.
Sebagai seorang pensiunan wartawan dari kantor media besar dan bonafide penerbit koran harian terbesar di Indonesia, yang bergelut dengan dunia jurnalistik selama puluhan tahun, seolah ada tuntutan bagi Mas Gun untuk selalu mendapatkan informasi primer. Bukannya hanya pemberitaan dari media, yang baginya itu hanya sebagai informasi sekunder.
Dengan mendatangi lokasi bencana, Mas Gun mengaku, akan mengetahui kondisi yang sebenarnya terjadi; mengetahui kondisi, risiko, dan kendala yang dihadapi oleh masyarakat korban bencana; mengetahui secara jelas di lapangan, faktor apa yang menjadi penyebab terjadinya bencana; apa yang korban bencana rasakan saat dan pasca bencana; bantuan apa yang paling urgent dibutuhkan oleh para korban bencana, dan segala informasi primer yang dibutuhkan. Untuk itu lah ia merasa perlu berangkat ke lokasi bencana, dalam hal ini ke Aceh Tamiang.
Terlalu Banyak Kesedihan untuk Diceritakan
Dua minggu sebelum keberangkatannya yang pertama dengan mengayuh sepeda, Mas Gun menyusun segala persiapan. Dari mulai kesiapan fisik, persiapan logisitik, hingga kesiapan sepeda, dan bantuan apa yang perlu ia bisa bawa untuk para korban bencana yang ia datangi. Sambil menginventarisasi dan menghubungi kawan-kawan relawan yang ada di lokasi bencana yang tengah giat kemanusiaan untuk bisa ikut gabung. Serta, melakukan mapping dan rencana rute yang akan ia lalui dengan sepedanya, dengan terus update mengenai jalan-jalan yang sudah bisa dilalui menuju lokasi bencana.
“Aku mutusin untuk ke Aceh Tamiang dulu, karena menurut informasi dari temen-temen relawan, juga dari beberapa pemberitaan media, Aceh Tamiang termasuk yang paling parah terkena bencana, dan masyarakatnya paling butuh bantuan, karena kondisinya yang masih terisolir belum bisa diakses saat itu, dengan kondisi kerusakan yang parah dan banyaknya korban. Jadi aku putusin untuk ke sini (Aceh Tamiang,red) dulu,” tuturnya.
Mas Gun bersyukur, akses jalan menuju Aceh Tamiang beberapa sudah diperbaiki dan bisa dilalui. Meski kondisinya masih darurat. Sehingga, bersama sepedanya, ia bisa melanjutkan perjalanan menuju posko WMI di Aceh Tamiang tanpa kendala yang berarti.
Namun, dibalik rasa syukurnya itu, ada banyak rasa sedih yang ia dapati selama perjalanan, mengayuh sepedanya dari Medan ke Aceh Tamiang. Terutama saat dirinya telah memasuki wilayah Aceh Timur, hingga ke wilayah Aceh Tamiang. Di mana, sepanjang jalan yang ia lalui, dirinya melihat kondisi lumpur yang mulai mengering bercampur dengan tumpukan kayu berbagai ukuran yang masih meninggi di sekitar jalanan. Jalan-jalan yang ia lalui pun masih licin dan berdebu, karena jalanan yang sebelumnya aspal masih tertutup lumpur tebal yang sudah mengering, sisa material yang terbawa banjir bandang. Debu jalanan yang berasal dari lumpur banjir yang telah kering dan mengeras, yang tergilas roda sepedanya maupun dari ban-ban kendaraan yang melintas, lalu terbawa angin.

Sepanjang perjalanan, Mas Gun melihat, nampak rumah-rumah yang hanya sebagian atapnya saja, tertimbun tanah lumpur material banjir bandang. Tumpukan-tumpukan kayu gelondongan raksasa bercampur lumpur masih ia saksikan menutupi bangunan-bangunan, baik rumah, toko atau tempat usaha, maupun tempat ibadah.
Sepanjang jalan ia juga dapati jajaran mobil-mobil atau motor, serta kendaraan lainnya yang terparkir berantakan terselimuti lumpur. Bahkan, ada yang saling menimpa, karena terbawa banjir. Tak ada yang tahu siapa pemiliknya.
Dalam perjalanan, kesedihannya semakin membuncah, saat melihat banyak orang dengan wajah, tubuh dan pakaiannya bermandikan lumpur. Hampir menutupi sekujur tubuhnya. Baik laki-laki maupun perempuan. Juga, orang tua bahkan anak-anak. Mereka hilir mudik dengan wajah bingung dan pasrah. Sebagiannya lagi nampak sibuk melakukan banyak aktivitas pada pagi menjelang siang yang agak panas itu.
Setelah beberapa kali sempat berhenti untuk bertanya kepada masyarakat yang ia temui di jalan. Ternyata para warga yang bermandikan lumpur tersebut tengah membersihkan tempat-tempat tinggalnya yang tertimbun material banjir. Sebagian lainnya, bergotong royong membersihkan bangunan seperti sekolah sebagai tempat perlindungan sementara (mengungsi,red) yang nantinya akan diisi beberapa keluarga.
Ada yang masih mencari informasi anggota keluarganya yang belum ketemu. Juga banyak di antaranya, tengah bergotong royong membantu warga lainnya. Saling membantu dan bergotong royong antar sesama warga korban bencana.
Selain itu, kebanyakan orang yang hilir mudik itu, tengah mencari bantuan makanan, minuman, pakaian, dan bantuan lainnya di posko-posko kemanusiaan yang berdiri di sana, maupun dari kendaraan-kendaraan relawan juga sipil/pribadi yang berhenti membawa bantuan.

Kesedihan mendalam yang ia rasakan, mengiringi setiap kayuhan sepedanya. Bahkan, tanpa terasa air matanya mengalir saat Mas Gun menyaksikan banyak anak-anak kecil berlari-larian mengejar mobil yang melintas pelan, baik kendaraan aparat, relawan, maupun kendaraan sipil/pribadi yang melintas, berharap ada sekedar bantuan makanan atau minuman untuk mereka.
Beberapa di antara anak-anak kecil tadi, dengan tubuh dan sebagian wajah bermandikan lumpur, tengah duduk-duduk di pinggir jalan untuk meminta bantuan dari siapa saja yang lewat –kami menghindari menggunakan kata atau istilah “mengemis”. Bukan uang yang diharapkan, melainkan makanan yang bisa diberikan untuk mengisi perut-perut kosong mereka. Mungkin juga bantuan untuk dibawa pulang untuk keluarga mereka yang menunggu dalam kondisi lapar dan haus, entah di tenda-tenda pengungsian atau di lokasi entah di mana, mengingat rumah-rumah mereka sudah hancur diterjang banjir bandang atau sudah tak bisa ditempati lagi akibat tertimbun material banjir bandang.
Mas Gun mengaku, semua kesedihan yang ia lihat di sepanjang jalan yang ia lalui seolah menjadi energi kalor yang memacu metabolisme tubuhnya hingga memuncak, memberinya energi untuk semakin kuat mengayuh sepedanya. Kesedihan yang ia saksikan di sepanjang jalan seperti memberinya kekuatan baru yang entah dari mana datangnya, hingga tanpa sadar dirinya semakin kuat mengayuh sepedanya.
Tekadnya saat itu hanya satu, yakni secepat mungkin sampai di posko relawan WMI, agar bisa sesegera mungkin ikut turun menyalurkan bantuan kepada warga korban bencana.
Mas Gun seolah tak memikirkan lagi keletihan yang dialaminya. Padahal dirinya juga butuh makan, minum dan istirahat, setelah menempuh perjalanan ratusan kilometer, berjam-jam lamanya, dengan sepedanya.
“aku nggak tau, nggak sadar, bawa sepedanya kenceng banget ternyata, aku gowesnya tadi kuat-kuat, entah ada kekuatan dari mana itu, aku nggak tau. Yang aku pikirin, cuman agar bisa secepetnya sampai di posko dan sesegera mungkin ikut turun ngasih bantuan ke warga. Selebihnya, aku nggak pikirin lagi, kalau aku belum sarapan sejak berangkat dari Langkat, nggak kepikiran capek, nggak kepikiran laper. Kayak ilang semua itu setelah minum air,” ungkap Mas Gun.
“Nah, malemnya baru terasa, tuh. Kok badan sama kaki-kaki rasanya pegel semua ya, baru berasa. Baru terasa laper juga pas sorenya tadi, aku baru makan, hehehee..,” sambung Mas Gun bercerita sambil terkekeh.
Saat dirinya diminta melanjutkan ceritanya mengenai kondisi di Aceh Tamiang dan masyarakatnya sesampainya ia di sana, beberapa kali Mas Gun tiba-tiba diam dan berhenti bercerita. Ia mengaku, terlalu banyak kesedihan yang ia jumpai. Baik selama perjalanan maupun ketika dirinya ikut turun bersama relawan WMI menyalurkan bantuan ke warga hingga malam hari. Dirinya tak tahu harus dari mana memulai atau melanjutkan ceritanya.
“Aku bingung mau mulai dari mana ceritanya, aku kudu cerita apa lagi, terlalu banyak kesedihan yang lihat dan aku rasain, di sana. Aku bingung mau cerita apa lagi,” tutur Mas Gun.
Mas Gun mengaku, membayangkan dan menempatkan dirinya pada posisi masyarakat Aceh Tamiang yang mengalami bencana banjir bandang dan longsor yang dahsyat dengan membawa material lumpur, batu, ribuan –mungkin jutaan– meter kubik kayu gelondongan, menerjang rumah-rumah mereka, menghancurkan segala yang dimiliki, termasuk tempat usaha, kebun, ladang dan sawah, kandang ternak, kendaraan. Hanya menyisakan baju di badan. Mungkin dirinya tak akan mampu, dan tak akan sanggup bertahan.
“aku bayangin diriku pada posisi mereka, duh, rasanya aku nggak bakalan mampu. Mereka (warga Aceh Tamiang) ini, masyaAlloh, kuat-kuat dan tegar-tegar dalam menghadapi cobaan yang berat ini, Subhanalloh,” ucap Mas Gun.
Bersambung…