SeputarHalal.com | Aceh — Selama seminggu Mas Gun ikut aktivitas kerelawanan dalam giat kemanusiaan bersama lembaga kemanusiaan Wahana Muda Indonesia (WMI). Bagi Mas Gun, apa yang dilakukan para relawan di Aceh Tamiang –atau dilokasi bencana lainnya– tersebut adalah pekerjaan yang sarat ibadah, penuh pahala.
Mereka, para relawan itu, seolah tak pernah memikirkan dirinya sendiri, memberikan segalanya untuk membantu para korban bencana. Mereka rela meninggalkan keluarga di rumah, meninggalkan zona nyamannya, untuk kemudian bergelut dengan bahaya, demi membantu para korban bencana. Mendedikasikan diri sepenuhnya untuk kemanusiaan.
Selama di Aceh Tamiang, Mas Gun tidur di Posko yang didirikan WMI, dengan kondisi darurat dan seadanya. Dan, ikut membantu warga korban bencana, bukan hanya membagikan makanan atau mendistribusikan bantuan lainnya, juga termasuk menggali dan membersihkan lumpur-lumpur material banjir bandang yang mengendap dan mulai mengeras, menyingkirkan kayu gelondongan, yang menimbun dan menutupi rumah-rumah ibadah, sekolah-sekolah dan madrasah, serta rumah-rumah warga.
Bersama relawan WMI, Mas Gun juga turut serta memasang lampu-lampu jalan tenaga surya (PJU solar cell) di titik-titik yang diperlukan warga dan pengungsi Aceh Tamiang. Menyalurkan bantuan bahan makanan serta alat-alat dapur dan memasak kepada warga. Mendistribusikan bantuan perlengkapan sekolah kepada anak-anak di Aceh Tamiang. Bahkan ikut menggergaji dan menyingkirkan kayu-kayu gelondongan berbagai ukuran yang menutupi jalanan, rumah ibadah, sekolah dan madrasah, juga rumah-rumah warga.
Harapan untuk Bangkit di Lubuk Sidup, Aceh Tamiang
Tak hanya di pusat Kabupaten Aceh Tamiang Mas Gun melakukan giat kemanusiaan bersama relawan WMI. Ia juga ikut masuk ke wilayah-wilayah pedalaman, di sekitar lereng bukit di Aceh Timur. Ke daerah pelosok di kabupaten Aceh Tamiang yang daerahnya lebih masuk lagi di pedalaman, yakni di Gampong (Desa) Lubuk Sidup.
Di Lubuk Sidup kondisinya lebih parah lagi. Nyaris tidak ada satu pun rumah warga di sana yang tersisa. Semuanya habis diterjang banjir, hampir rata dengan tanah. Kecuali, ada satu bangunan yang masih berdiri kokoh, yakni Masjid.

Saat banjir bandang menerjang, masjid tersebut tak hanya dijadikan sebagai tempat menyelamatkan diri bagi warga gampong Lubuk Sidup. Bahkan keberadaan masjid tersebut mampu menahan ribuan gelondong kayu ukuran besar beserta material lainnya yang terbawa banjir bandang dan tanah longsor dari arah perbukitan.
Meski rumah hancur luluh lantak, semua harta benda, tempat usaha, ladang, sawah, dan kebun habis diterjang bencana, Mas Gun bercerita, warga gampong Lubuk Sidup masih merasa bersyukur karena semua warganya selamat.
Ketika banjir bandang dan tanah longsor melanda akhir November 2025 lalu, warga Lubuk Sidup lari mengungsi ke daerah yang lebih tinggi, ke bukit-bukit di sekitar mereka. Termasuk lari ke atap mesjid untuk menyelamatkan diri. Setelah arus dan genangan banjir mulai surut, warga baru mulai berani turun untuk melihat rumah-rumah yang mereka tinggalkan untuk menyelamatkan diri. Ternyata, semuanya hancur tak tersisa. Kondisi desa mereka telah luluh lantak diterjang banjir bandang.
“Setelah banjir mulai surut, para warga yang sebelumnya lari ke atap masjid, juga ada yang ke bukit-bukit, mulai pada berani turun. Ngecek rumah-rumah mereka, tempat usaha, semua pada hancur, habis diterjang banjir. Termasuk ladang, kebun, dan sawah mereka. Semua pada abis kena banjir bandang,” ungkap Mas Gun, yang mengatakan bahwa cerita ini ia dapatkan dari para warga Lubuk Sidup yang ia temui. Hampir semua warga yang ia temui menceritakan kondisi yang sama saat banjir bandang melanda desa mereka.
Setelah turun dari tempat-tempat menyelamatkan diri mereka selama beberapa hari, lalu mendapati rumah-rumah dan desa mereka telah hancur luluh lantak diterjang banjir, para warga yang telah berhari-hari lari ke tempat aman itu hanya bisa diam dan pasrah melihat kondisi tersebut. Dalam kebingungan, mereka mencoba mencari keluarga mereka, mencari tempat aman untuk berlindung sambil menahan lapar berhari-hari karena akses jalan tertutup longsor dan jembatan terputus diterjang banjir bandang. Mereka tak bisa keluar dari kampung, dan tak ada atau belum ada bantuan yang masuk.
“Tak ada bantuan yang masuk ke sini (Lubuk Sidup, red), karena sulit. Akses jalan tertutup longsor dan jembatan putus. Warga juga nggak bisa keluar untuk nyari bantuan ke kabupaten. Kondisinya bener-bener sulit,” ucap Mas Gun.
“masyaAlloh, sulit membayangkan kondisinya saat itu. Mereka semua, warga sekampung sampai kelaparan, berhari-hari, karena sudah tidak ada lagi stok makanan. Alat untuk memasak pun juga tak ada, semua habis diterjang banjir. Untuk minum pun sulit, mereka minum air hujan, atau harus menyaring air genangan sisa hujan. Benar-benar sulit,” sambungnya.

Namun kini, Mas Gun melajutkan ceritanya, setelah jalur transportasi ke Lubuk Sidup sudah normal kembali, jalan dan jembatan darurat sudah dibikin dan dibenahi, sebaran warga korban banjir mulai terurai. Mereka yang semula ramai-ramai berada di tempat pengungsian kini berangsur pindah ke tenda-tenda sementara yang disediakan pemerintah maupun tenda-tenda yang dibangun oleh para relawan dari lembaga-lembaga kemanusiaan. Termasuk tenda WMI, di mana Mas Gun ikut membantu mendirikannya.
Mas Gun menyampaikan, Selama ikut giat bersama WMI di pusat Kabupaten Aceh Tamiang dan Lubuk Sidup, dirinya melihat WMI tak hanya menyediakan tenda-tenda sementara untuk warga tinggali, tapi juga mendirikan posko khusus di pelataran masjid. Yang tujuannya, kata Mas Gun, untuk memberikan pendampingan kepada para korban bencana, dengan memberikan pelatihan dan peralatan untuk membangun, memasak, dan lain sebagainya, agar ke depannya para penyintas warga korban bencana itu bisa lebih mandiri. Memiliki kemampuan dan kapasitas untuk menolong atau membantu dirinya sendiri, keluarganya, dan orang-orang di sekitarnya.
“Dalam disiplin ilmu Pekerjaan Sosial (Social Worker) ini dikenal dengan istilah ‘to help then help them selfer’, atau memberikan pertolongan agar mereka bisa menolong dirinya sendiri,” kata Mas Gun.
Istilah yang dalam dalam konsep community development (Comdev) juga dikenal sebagai pemberdayaan (empowerment). Prinsip ini merupakan landasan penting bagi para relawan yang berfokus kepada membantu masyarakat yang menjadi korban bencana untuk mengembangkan kapasitas, kepercayaan diri, dan keterampilan yang diperlukan agar pada akhirnya mereka dapat mandiri dan menyelesaikan masalah mereka sendiri.
“Makanya, pada tahap sekarang nih, aku dan temen-temen WMI udah nggak lagi membagi-bagikan makanan bagi masyarkat di Lubuk Sidup. Tapi, membagikan family kit, berupa alat-alat masak atau peralatan dapur, termasuk kompor dengan tabung gas sama isi gasnya sekalian, serta peralatan mandi, agar warga bisa masak sendiri untuk keluarganya masing, tak tergantung lagi pada dapur umum,” tuturnya.
“Terus membagikan gergaji, paku, palu dan alat pertukangan atau alat bangunan, yang bisa digunakan warga penyitas untuk memperbaiki rumah atau membangun rumah,” sambungnya.
Ketabahan Warga Gampong Pante Kera, Aceh Timur
Kondisi agak berbeda Mas Gun temui, saat dirinya bersama tim relawan WMI masuk lagi lebih jauh ke pedalaman. Tepatnya di Gampong (Desa) Pante Kera, Kecamatan Simpang Jernih, Aceh Timur yang berbatasan dengan Aceh Tamiang.
Mas Gun melihat, masih banyak warga (bersama keluarganya) tinggal di bukit, mendirikan tenda-tenda darurat secara mandiri di sana, untuk mencari aman jika sewaktu-waktu terjadi lagi bencana banjir bandang. Rasa trauma mendalam yang masih membekas kuat di hati warga desa Pante Kera akan bencana tersebut.
“Banyak keluarga-keluarga yang masih tinggal di bukit, bangun sendiri tenda-tenda darurat di sana. Masih trauma dengan bencana kemarin,” tutur Mas Gun.

Sama seperti gampong Lubuk Sidup saat terjadi bencana tanah longsor dan banjir bandang akhir November 2025 lalu, di gampong Pante Kera nyaris tidak satu pun rumah penduduk yang selamat. Semuanya hancur luluh lantak dihantam banjir bandang.
Berdasarkan cerita yang Mas Gun dapatkan dari warga Pante Kera, meski desanya hancur diterjang banjir bandang, namun seluruh warga gampong bisa selamat. Sebabnya, saat terjadi banjir bandang, para warga beramai-ramai lari ke atas bukit untuk menyelamatkan diri.
“Saat terjadi banjir bandang, kami mengungsi ke daerah atas bukit selama sekitar 3 hari. Hingga ke atas pun air banjir masih meluap. Tapi setidaknya kami tidak sampai tenggelam,” kata salah seorang warga gampong Pante Kera yang diceritakan kembali oleh Mas Gun kepada kami.

Desa Pante Kera yang berada di Kecamatan Simpang Jernih ini memiliki kondisi geografis yang menantang, termasuk aliran sungai besar yang memisahkan beberapa desa. Masyarakat gampong Pante Kera sebelum terjadinya bencana banjir bandang dan tanah longsor November 2025 lalu masih sering menggunakan rakit atau perahu nelayan untuk menyeberangi sungai. Saat ini, perahu itu sangat berguna dimafaatkan warga untuk mencari bantuan. Begitu pun dengan relawan yang akan masuk ke wilayah Desa Pante Kera untuk menyalurkan bantuan, mereka menggunakan rakit dan perahu nelayan untuk bisa masuk dan kirim bantuan ke desa Pante Kera.
Untuk masuk ke Desa Pante Kera, warga dan para relawan harus menempuh perjalan selama lebih dari satu jam, menyusuri sungai menggunakan rakit atau perahu nelayan.
Mas Gun menyebut, kondisi di Desa Pante Kera masih penuh dengan kayu-kayu gelondongan dengan berbagai ukuran dan lumpur bekas banjir yang mulai mengendap dan mengeras. Menurutnya, warga Desa Pante Kera masih membutuhkan bantuan logistik, air bersih, obat, pakaian, perlengkapan ibadah, bahkan akses kelistrikan.
“Mereka lebih dari satu bulan ini pakai genset yang hanya hidup di malam hari dan itu pun satu genset dibagi satu desa,” ungkapnya.
Untuk bisa tetap bertahan hidup selama tinggal di tenda-tenda darurat di atas bukit, warga Pante Kera akan turun ke dapur umum terdekat, baik yang didirikan oleh pemerintah maupun oleh lembaga-lembaga kemanusiaan, untuk mengambil makan dan minum untuk kebutuhan sehari-hari.

Saat kami melakukan sambungan telepon seluler dengan Mas Gun pada Sabtu Sore (17/1/2026), relawan WMI tengah berupaya untuk menyalurkan air bersih dari atas bukit atau dari sumber-sumber air di sekitar Pante Kera maupun di Lubuk Sidup, dengan menyambungkan pipa-pipa karet berdiameter besar menyusuri lereng bukit dan sungai besar, berkolaborasi dengan prajurit-prajurit TNI, dalam program Pipanisasi Air Bersih ke wilayah Pante Kera. WMI bersama TNI juga tengah membangun akses untuk bantuan air bersih yang masuk, entah dari pemerintah maupun lembaga-lembaga kemanusiaan yang dibawa melalui mobil tangki, untuk warga Lubuk Sindup dan Pante Kera agar bisa mendapatkan air bersih.
Bagi warga Pante Kera, banjir bandang kali ini bukan hanya meluluh-lantakkan tempat tinggal mereka, tetapi juga melumat ladang usaha warga baik sawah maupun kebun mereka. Karena itu tidak mudah bagi mereka untuk bisa memulai kembali kehidupan dari nol. Meski begitu, Mas Gun mengaku, penduduk di Pante Kera berusaha untuk tetap tabah dan tegar, dengan mengambil hikmah dari bencana besar yang melanda mereka.
“Kalau tidak ada bencana, saya tidak mungkin bertemu bapak dan para relawan ini, kan,” kata warga kepada Mas Gun. Ucapan sederhana yang membuat Mas Gun meneteskan air mata haru.
Kunci ketabahan, ketenangan jiwa dan hati mereka saat ini, ucap Mas Gun, hanyalah rasa syukur mereka masih selamat dan diberikan kesempatan hidup dari bencana dahsyat yang melanda gampong mereka. Kalimat syukur “Alhamdulillah” tak henti-henti diucapkan warga desa Pante Kera yang ditemui Mas Gun.
Mas Gun menyebut. perlu waktu kurang lebih 20 tahun bagi warga korban bencana dan wilayah yang terkena bencana banjir bandang dan tanah longsor ini, baik di gampong Pante Kera, di Lubuk Sidup, di Aceh Tamiang, maupun di wilayah Aceh Timur untuk bisa benar-benar pulih kembali kehidupannya, seperti sebelum terjadinya bencana banjir bandang dan tanah longsong akhir November 2025 silam.
Setelah ikut turun bersama para relawan, membantu para korban bencana, Mas Gun bisa menyaksikan kekuatan jiwa manusia di tengah kehancuran, di mana duka mendalam berpadu dengan secercah harapan. Menurut Mas Gun, di tengah derita bencana, dirinya bersama para relawan melihat jiwa-jiwa yang menemukan makna dari kehilangan, untuk kemudian bangkit kembali membawa harapan bersama untuk membangun dan menata kembali kehidupan mereka.
“Tidak mudah untuk bangkit dari kondisi kehancuran seperti ini. Butuh kekuatan jiwa yang besar. Aku malah ngelihat, jiwa-jiwa yang besar itu tumbuh dari para korban bencana ini,” ucapnya.
Sebelum mengakhiri sambungan telpon kami, Mas Gun mengingatkan bahwa para korban bencana banjir bandang dan tanah longsor di Aceh Tamiang, di Lubuk Sidup, di Pante Kera, maupun di tempat-tempat lainnya di Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara, masih menghadapi perjuangan panjang untuk melanjutkan kehidupannya. Banyak di antara mereka yang kehilangan tempat tinggal dan tempat usahanya, ladang, kebun, dan sawahnya. Mereka tentu tidak ingin selamanya menggantungkan bantuan dari orang lain. Mereka berusaha untuk mandiri melanjutkan kehidupannya.
Untuk itu, Mas Gun berpesan, dalam masa rehabilitasi dan rekonstruksi ini, mereka masih butuh bantuan kita. Para korban bencana tidak hanya butuh bantuan logistik dan perbaikan infrastruktur, tapi mereka juga butuh kehadiran kita untuk bisa menggembirakan hati mereka.
