SeputarHalal.Com | Jakarta — Konflik bersenjata di berbagai belahan dunia dinilai tidak bisa dilepaskan dari kepentingan politik dan ekonomi global.
Hal ini disampaikan Dosen Jurnalistik Universitas Padjadjaran sekaligus Direktur SMART 171, Dr. Maimon Herawati dalam diskusi daring Smart Class bertajuk “Konflik Dunia, Siapa Diuntungkan?”, Ahad (25/1/26).
Maimon menyampaikan, sejumlah konflik internasional menunjukkan pola yang sama. Ada peningkatan kejahatan perang dan itu menguntungkan aktor tertentu di tingkat global.
Dr. Maimon mencontohkan konflik di Iran, Venezuela, Suriah, dan Palestina, di mana perang dan instabilitas sering kali berkelindan dengan kepentingan strategis Israel dan jaringan Zionis internasional.
“Pertanyaan paling mendasar dalam setiap konflik bukan hanya siapa yang bertikai, tetapi siapa yang diuntungkan,” ujarnya.
Maimon menilai bahwa wacana rekonstruksi Gaza pun tak lepas dari kepentingan politik dan ekonomi yang menyertai konflik berkepanjangan di Palestina.
Ia juga mengkritisi sejumlah kebijakan luar negeri Amerika Serikat pada era Donald Trump, termasuk pengakuan sepihak Yerusalem sebagai ibu kota Israel, klaim Israel atas Dataran Tinggi Golan, serta penghentian pendanaan untuk UNRWA.
Kebijakan tersebut, menurutnya, lebih mencerminkan tekanan kelompok pro-Zionis dibandingkan kepentingan publik Amerika secara luas.
Maimon kemudian mencontohkan bagaimana Venezuela menjadi negara yang secara terbuka menentang kebijakan Israel.
Venezuela memutuskan hubungan diplomatik dengan Israel pada 2009 dan menjadi negara pertama di kawasan Amerika yang mengakui Palestina sebagai negara berdaulat pada 2005. Negara itu juga turut serta secara aktif mendorong pengakuan Palestina di PBB.
Dan tiba-tiba, Amerika serang Venezuela, dan pemimpinnya ditangkap dan disekap, Presiden Nicolas Maduro
Lebih jauh lagi Maimon menyoroti, Palestina seolah dijadikan ‘laboratorium’ bagi pelemahan hukum internasional. Baik oleh Amerika dan sekutu-sekutunya, maupun oleh Zionis Israel.
Normalisasi pelanggaran hak asasi manusia dan perampasan wilayah di Palestina, sambung Maimon, berpotensi menjadi preseden berbahaya bagi konflik teritorial di kawasan lain, di dunia.
Selain perang fisik dengan peluru, roket dan alutsista, Maimon juga menyoroti tentang perang narasi sebagai propaganda pembenaran atas kejahatan perang dan kemanusiaan yang dilakukan oleh Israel dan Amerika.
Narasi timpang, dengan penguasaan media dan ‘bombardir’ berita yang menyimpang dan bertolak belakang dengan fakta yang terjadi dalam konflik Palestina-Israel telah menjadi ‘medan peperangan’ lain untuk dikuasai dan dimenangkan.
“Israel kerap diposisikan sebagai satu-satunya korban, sementara kejahatan perang terhadap sipil Palestina dianggap wajar,” tutur Maimon.
Cara pandang Israel yang menganggap warga Palestina tidak setara secara kemanusiaan disebut sebagai akar kekerasan struktural yang terus berulang.
Di akhir pemaparannya, Maimon menyinggung pengaruh kelompok Zionis dalam politik global, khususnya di Amerika Serikat, melalui jejaring organisasi dan lobi yang dinilai mampu memengaruhi kebijakan luar negeri hingga dinamika pemilu.