Seputar Halal | Jakarta – Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Kurniasih Mufidayati, menegaskan bahwa pengembangan wisata halal Indonesia membutuhkan keterlibatan aktif perguruan tinggi. Menurutnya, kampus tidak hanya berperan mencetak lulusan, tetapi juga menjadi pusat riset, inovasi, dan pengembangan sumber daya manusia (SDM) yang mampu memperkuat daya saing industri halal nasional.
Pernyataan tersebut disampaikan Kurniasih dalam sebuah sesi dialog di Jakarta, sebagaimana dikutip dari ANTARA, Minggu (26/7/2026). “Untuk menyiapkan sumber daya manusia yang unggul diperlukan kolaborasi dengan perguruan tinggi. Begitu juga dalam melahirkan inovasi melalui riset yang akan mendukung pengembangan wisata halal di Indonesia,” kata Kurniasih.
Pernyataan ini menunjukkan bahwa masa depan wisata halal Indonesia tidak cukup dibangun melalui pembangunan destinasi semata. Keunggulan kompetitif justru ditentukan oleh kualitas SDM, hasil riset ilmiah, serta inovasi yang dihasilkan lembaga pendidikan tinggi.
Kurniasih memaparkan bahwa sektor perjalanan dan pariwisata masih menjadi salah satu pilar penting perekonomian nasional. Pada 2024, sektor ini menyumbang sekitar 5,1 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia, menciptakan sekitar 12,9 juta lapangan kerja, serta menarik 17 juta kunjungan wisatawan mancanegara.
Menurutnya, capaian tersebut menunjukkan bahwa pariwisata tetap menjadi salah satu mesin pertumbuhan ekonomi Indonesia. Di antara berbagai segmen industri pariwisata, wisata halal menjadi sektor yang mengalami pertumbuhan paling pesat.
Potensi Wisata Halal Global Mencapai 245 Juta Perjalanan pada 2030
Mengutip laporan Global Muslim Travel Index (GMTI), Kurniasih menyampaikan bahwa jumlah wisatawan Muslim internasional mencapai sekitar 176 juta perjalanan pada 2024. Jumlah tersebut diproyeksikan meningkat menjadi 245 juta perjalanan pada 2030 dengan nilai belanja yang diperkirakan melampaui 230 miliar dolar AS.
Besarnya pasar tersebut membuka peluang strategis bagi Indonesia sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia. Namun, menurut Kurniasih, peluang tersebut hanya dapat dimanfaatkan apabila Indonesia mampu menghadirkan keunggulan yang sulit ditiru negara lain, yaitu inovasi berbasis ilmu pengetahuan dan riset.
Kurniasih menilai kontribusi perguruan tinggi jauh melampaui fungsi pendidikan formal. Kampus memiliki peran strategis dalam menghasilkan tenaga profesional yang siap memenuhi kebutuhan industri wisata halal.
SDM yang kompeten menjadi modal utama untuk meningkatkan daya saing nasional sekaligus mendukung target Indonesia masuk dalam jajaran lima besar destinasi wisata halal terbaik di dunia.
Selain mencetak lulusan, perguruan tinggi juga diharapkan menjadi pusat pengembangan riset yang mampu melahirkan model pengelolaan wisata halal yang lebih adaptif terhadap perubahan kebutuhan wisatawan Muslim global.
Hasil penelitian tersebut diharapkan dapat menjadi dasar penyusunan kebijakan pemerintah, meningkatkan kualitas pelayanan, serta memperkuat daya tarik destinasi wisata ramah Muslim di berbagai daerah.
Peran kampus juga diwujudkan melalui berbagai program pengabdian kepada masyarakat. Pendampingan terhadap pelaku UMKM, pelatihan bagi pengelola destinasi wisata, hingga pemberdayaan masyarakat di kawasan wisata dinilai mampu meningkatkan kualitas layanan sesuai standar wisata halal internasional.
Kolaborasi tersebut tidak hanya memperkuat ekosistem industri halal, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi daerah melalui peningkatan kualitas destinasi wisata.
Indonesia Berpeluang Memimpin Wisata Halal ASEAN
Kurniasih juga menyoroti kawasan ASEAN yang masih menjadi pasar terbesar wisatawan Muslim dunia. Menurutnya, Indonesia diperkirakan mampu menyerap sekitar 34 hingga 38 persen potensi pasar tersebut.
Potensi ini menunjukkan peluang Indonesia masih sangat besar meskipun ekonomi global menghadapi berbagai tantangan.
Karena itu, ia mendorong perguruan tinggi menjadi pusat kolaborasi dalam pendekatan pentahelix, yang melibatkan pemerintah, dunia usaha, akademisi, komunitas, media, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya untuk bersama-sama mengembangkan industri wisata halal.
Pendekatan kolaboratif tersebut dinilai menjadi fondasi penting apabila Indonesia ingin naik kelas dari sekadar negara tujuan wisata menjadi pemimpin dalam pengembangan ekosistem wisata halal global.
“Dengan dukungan sumber daya manusia yang unggul, inovasi berbasis riset, serta sinergi lintas sektor, Kurniasih berharap perguruan tinggi mampu menjadi motor penggerak dalam mewujudkan Indonesia sebagai salah satu destinasi wisata halal terbaik di dunia,” pungkasnya.
Di tengah persaingan global yang semakin ketat, tantangan Indonesia tidak lagi sekadar meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan Muslim. Yang lebih penting adalah membangun ekosistem wisata halal berbasis riset, inovasi, dan kolaborasi lintas sektor.
Melalui peran aktif perguruan tinggi sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan, Indonesia berpeluang tidak hanya menjadi pasar wisata halal dunia, tetapi juga menjadi rujukan internasional dalam pengembangan ekonomi halal yang berkelanjutan dan berbasis inovasi.